Selasa, 16 Februari 2016

Tentang hujan,payung,dan kamu.

Jika takdir bisa dipesan,aku yakin kau akan memilih untuk tidak pernah bertemu dengannya. Tapi sayangnya kau bukan Tuhan,semuanya harus terjadi kan?
Langit tak pernah sehujan ini,aku tahu kau kedinginan sekali.
Langit tak pernah sehujan ini,kau pasti takut tak henti-henti.
Kau tau,kau tak pernah selayu ini.  Sehujan apa pun semesta mu.
Tapi sebenarnya kau lebih kuat dari yang kau tahu. Sebab acuh,kecewa,marah,sedih,senang,kesepian,dan rindu pernah kau lalui sendirian,put.
Tak perlu selayu ini. Hujan akan reda. Tetapi jika kau pikir malah semakin deras,kencangkan tali sepatu mu. Lewati hujan ini,kami siap menjadi payung mu.
Matahari mu sedang redup,jangan biarkan ia semakin tenggelam saat melihat gigil kedinginan mu. Yakin kan ia,kau akan baik-baik saja. Sehujan apa pun semesta mu,seredup apa pun ia hari ini.
Meski mentari tak lagi bersinar,meski hujan kian badai,kau harus tetap berjalan,seberat apa pun langkah mu kini,kau adalah nahkonda di kapal mu sendiri.

Berbahagia lah,karena Allah masih memberi mu hujan,lalu ambil apa yang bisa kau ambil.

Senin, 25 Januari 2016

Jarak

Akan datang hari dimana kau sangat merindukannya,padahal ia tak pernah pergi kemana mana.
Pernah tidak senyum mu tiba-tiba mengembang secara otomatis saat ia melintas dihadapan mu?
Pernah tidak kau tertawa terbahak-bahak saat ia bertingkah seperti uus,dan membuat mu merasa menjadi orang yang tak pernah punya masalah?
Pernah tidak,kau begitu kelimpungan saat tak bertemu dengannya di jilan ynag selalu kalian lalui?
Jika iya,itu artinya hati mu telah dijatuhkan padanya.
Dada mu begitu riuh,seperti ada ratusan kuda yang sedang berpacu didalamnya. Saat ia mengantar mu pulang ke rumah,saat ia yang tiba tiba memberi mu bekal makan siang,bahkan saat jemarinya tak sengaja menyentuh pundak mu.
Menyenangkan? Tentu saja. Kau seperti orang yang tak pernah lelah merajut selimut rindu,dan ia tak pernah keberatan untuk menggunakannya.
Ia selalu menjadi alasan mu untuk mendapatkan nilai 90 di kelas,ia tahu betul kalau kamu tidak suka makanan pedas,ia adalah orang pertama yang kau cari saat kau tak bisa tidur,dan ia telah membuat mu seolah olah semesta barunya.
Tetapi kemudian kau sadar,bahwa ia melakukannya pada semua perempuan. Yang kau kira ia adalah pencinta,tapi ternyata hanya penyayang. Tiba-tiba kau harus memangkas cinta yang baru tumbuh,dan menguburnya dalam kekecewaan yang tak bisa dijelaskan. Ia seolah tahu semua hal tentang kamu,seolah 'jika kau saat maka aku akan merasakannya juga',seolah memberi mu hujan sertelah kemarau panjang.
Sisi perempuan mu mungkin sakit bukan kepalang,tapi kau jangan sampai menunjukan sisi kemalangan. Saat ada dalam posisi sekelam ini,sebaiknya kencangkan tali sepatu mu,pergi sejauh yang kau bisa,dan tak perlu kembali sebab ia bukan lagi tempat kau pulang.
Sebab hati mu terlalu kuat untuk dipatahkan olehnya,berbahagia lah lebih banyak lagi,berpijarlah lah lagi.

Rabu, 18 November 2015

Sebuah Pertemuan



Hari ini tepat 500 hari setelah kamu pergi,pergi jauh sekali.
Kau meminta ku untuk baik-baik saja,-padahal sulit sekali- tapi aku bisa melalukannya. Lalu mengapa kau datang dan menemui ku lagi? Rindu kan? Akui saja,toh aku pun begitu.
Aku selalu senang saat kau datang,tapi tidak untuk hari ini. Pergi ya pergi saja,tak usah datang lagi. Apa lagi jika hanya untuk mengacak-ngacak hati ini lagi.
Kamu tak henti-hentinya meminta maaf,karena telah pergi tanpa pamit. Aku hanya tertawa saja.
Kamu pikir,melepaskan dan mengobati luka sendirian adalah hal yang mudah?
Kamu pikir,menunggu kau pulang adalah hal yang menyenangkan? Tidak,tuan.
Bahkan penyesalan mu pun tak bisa menjelaskan atas segala apa yang telah ku relakan.
Perihal rindu,memang masih tentang kamu. Tapi maaf,hati ini tak lagi meneima tamu semacam kau. Yang datang terlambat,dan pergi terlalu cepat.
“tak adakah tempat di hati mu untuk ku lagi?”,kata mu sambil berusaha menggenggam tangan ku,namun ku tepis dengan cepat.
Sebenarnya kau masih punya tempat,tapi kecewa ku terlalu berat.
Aku tak pernah menyangka kita akan betemu lagi,dalam keadaan seperti ini. Meski kamu yang meminta duluan. Karena aku tak sudi mengemis sebuah pertemuan dengan seseorang yang tak tau diri,yang diminta bertahan tapi tetap meninggalkan.
Lalu aku bediri “maaf tuan,aku tak punya waktu untuk patah hati lagi”. Kata ku sambil memunggungimu,yang tak peduli pada air yang menggenang di pipi mu.

Minggu, 11 Oktober 2015

Dear subhanallah ku.

Entah malam keberapa,dimana aku tetap terjaga. Tak bisa tidur karena mu.
Tentang senyum yang ditunjukan kepada siapa.
Tentang tawa yang hadir entah karena apa.
Atau tentang sapaan yang tiba tiba muncul di lini masa,entah untuk siapa.
Ini masih tentang kamu yang terlalu sempurna.
Dan masih tentang aku yang tak berani menyapa.
Kamu tidak tau betapa degup jantung ku terlalu terburu-buru,saat kamu memanggil nama lengkap ku. Saat kamu tersenyum ke arah ku,atau saat kamu menanyakan kabar ku malam itu.
Kamu tidak akan tau betapa terbakarnya dada ini,saat melihat mu bersenda gurau dengan perempuan selain aku.
Kamu juga tidak akan tau,betapa sulitnya aku untuk tertidur saat aku rindu kamu.
Ku rasa kamu memang tak usah ingin tau.
Biar lah orang bilang aku egois,toh apa lagi yang harus ku lakukan selain jatuh cinta sendirian?

Selasa, 06 Oktober 2015

Surel rahasia.

“jika aku rindu kamu bagaimana?”
“memangnya kenapa? Kau bebas melakukannya. Setiap hari pun tak apa.”
“benarkah?”
“tentu saja,sebab kita masih bisa jadi teman dan tak akan pernah saling melupakan. Aku berjanji.”



Jika mengingat percakapan tadi,aku ingin sekali tertawa terbahak-bahak. Kau begitu manis tenyata.
Bahagia adalah saat kita bisa duduk berhadapan. Kau memakan es krim cokelat,dan aku memakan es krim rasa vanilla. Tak ada yang berbicara,namun terasa hangat disana,di dada ku.
Rambut mu selalu berantakan,tapi aku suka. Sebab dengan begitu aku bisa merapikannya,dan menciumnya sesekali.
Aku tak pernah bosan,saat mendengarkan mu bercerita berjam-jam bagai pendongeng. Sebab aku tak pernah berhenti tertawa saat menyimaknya.
Dekap mu adalah tempat yang paling masuk akal,saat masalah mengacak-ngacak kewarasan.
Dan tatap mata mu adalah sesuatu yang paling meneduhkan.
Terima kasih,kamu. Dan selamat hari kita yang ke-365 ya,kamu. Sekarang,bisakah kamu menepati janji mu saat ia telah menjadi semesta baru mu?


Jumat, 01 Mei 2015

Selamat tinggal

Hari itu aneh sekali. Aku hanya patah hati,tapi aku seperti ingin mati.
Aku masih ingat hari hari itu.
Hari dimana semesta ku berubah menjadi kelabu.
Hari dimana aku kehilangan aku,kita dan kau.
Sesak sekali rasanya,ketika aku harus melihat mu tertawa bersama perempuan selain aku.
Dan terasa begitu berat,ketika aku harus menyapa mu saat kau sedang menyuapi perempuan mu saat jam makan siang.
Seolah hari itu aku ingin melarikan diri,dan berharap tidak bertemu dengan mu lagi.
Hari itu aku kehilangan semangat belajar,kehilangan nafsu makan dan kehilangan alasan untuk tertawa. Aku seperti orang asing.
Kau lihat kan? Bagaimana patah hati bisa menyita waktu dan menghilangkan kewarasan?
Tetapi hari-hari gelap itu telah berlalu,kini hanya ada aku yang memunggungi mu.
Kau telah pergi,pun aku yang telah melangkahkan kaki lebih jauh lagi.
Aku telah asing di kepala mu,pun kau yang telah berbeda di semesta ku.
Saat kau pergi,semesta tetap bekerja seperti seharusnya. Mentari tetap terbit dari timur. Pelangi tetap berwarna warni. Pun senja tetap berwarna jingga.
Dan kau harus tau. Hanya karena kau telah mematahkan hati ku menjadi kepingan,bukan berarti aku tidak bisa menyambungkan.


Note : Ditulis di akhir bulan maret.

Jumat, 13 Maret 2015

Ini untuk kita

Ini untuk kamu,yang begitu hebat bisa membuat sahabat mu ini menjatuhkan hatinya ke dasar hati mu.
Ini untuk kamu,yang bisa membuat ku merasa tak membutuhkan dunia karena ada kamu disini.
Ini untuk kamu,yang mengajari ku untuk mencintai mu tanpa jeda dan karena.
Ini untuk kamu,yang membuat semesta ku begitu menyenangkan.
Ini untuk kamu,yang membuat rindu yang tak berkesudahan.
Ini untuk kamu,yang mengajari ku arti kecewa dan kehilangan pada saat bersamaan. Yang mengajari ku arti sakit setelah ditinggalkan.
Ini untuk kamu,yang menjadi asing. Menjadi orang lain di hadapan sahabat mu sendiri. Melemparkan bertubi tubi kesakitan,yang harus ku lalui sendirian.
Ini untuk aku,yang terlampau kehilangan,yang terlampau dalam mencintai dan terlalu lama merindu.
Ini untuk aku,yang beranjak pergi karena ingin menyelamatkan hati dari rasa sakit yang teramat sangat.
Yang ini untuk kita,yang tidak berani menatap saat sama sama merasa kehilangan. Dan mengaku untuk tidak saling mengacuhkan,tetapi tidak pernah bertukar kabar.