Rabu, 26 Agustus 2020

Selamat Ulang Tahun, Iki


Tidak banyak foto yang saya abadikan bersama dia, tapi di foto ini saya ingat sedang menggandeng Iki yang lain. Iki yang tidak pernah ikut ekskul, selalu meminta jawaban pr fisika saya, remedial ulangan biologi, dan bahkan mungkin saat itu hanya saya yang mau berteman dengan dia.

Sekarang dia sudah bekerja di tempat yang layak, dua minggu sebelum ia sidang skripsi, tidak pernah gugup lagi berbicara di depan ratusan orang, tergabung dalam banyak organisasi dan komunitas, membaca lebih banyak buku dari pada saya, dan pernah menjadi pembicara di aula sekolah yang dulu tidak pernah ia datangi karena malas. Sungguh acuan pencapaian yang untuk saya sendiri, sulit untuk dikejar.

Satu hal yang tidak berubah dari dia adalah keras kepalanya saat menginginkan sesuatu. Selamat ulang tahun, Rizki Alifian. Ucapan yang pendek ini, dititipkan kebaikan yang panjang umur.

Rabu, 03 Juni 2020

Terlambat


Kamu itu kalau mau dibilang ganteng sih nggak, gak begitu smart juga. Biasa-biasa aja, tipe laki-laki yang gak peduli penampilan malah. Tapi malem itu aku duduk di depan kamu, nangis sesegukan. Sesekali kamu meluk, bilang kalau aku bisa ngelewatin semua ini, dan bahagia lagi. Standar respon cowok yang lagi dicurhatin temen cewek yang abis putus gitu lah.
Semenjak itu degup gak pernah lagi selain kamu. Kita hampir selalu malem mingguan bareng. Tapi hubungan ini tih toxic banget, dibilang pacaran nggak, kalau pun temenan, seharusnya bibir kamu gak pernah mendarat di keningku.
Kita sama-sama gak punya pacar, tapi gak ada tuh yang tau pasti lagi deket sama siapa aja, setau aku yang paling intens ya sama aku doang. Aku sayang sama kamu, dan kamu juga pernah bilang hal yang sama.
Menurut kamu, dalam beberapa hal, aku tuh bisa diandalkan. Tapi menurut aku, kamu nggak. Ya gimana mau diandalkan, kalo kamu aja gak perhatian. Gak pernah tuh kamu nanya “ada cerita apa hari ini?”, “kamu sibuk ngapain sih?”, atau “makan dulu gih, nanti nugasnya dilanjut lagi”. Padahal hal-hal kecil kayak gitu berarti banget buat aku, tapi gak pernah sekalipun terucap dari kamu. Kamu cuma ngejawab pertanyaan aku aja setiap hari, seperlunya.
Menurut aku, di beberapa kondisi, kamu tuh manis kadang-kadang. Setiap bulan terang dan bulat dengan sempurna, kamu suka tiba-tiba ngirimin foto langit sambil bilang “moon, liat ke luar deh. I love you to the moon and back”, atau kalau aku lagi gak mood, tiba-tiba kamu bawain susu strawberry sama es krim rasa vanilla. Walau gak jarang juga aku ngerasa diperlakukan gak adil. Kayaknya kamu tuh sulit banget ngehargain posisi aku, belum lagi banyak hal-hal baru yang ternyata lebih menarik buat ngisi hari-hari kamu, dibanding aku.
Dalam beberapa momen juga, aku sering ngerasa capek, ngerasa cukup, dan pengen udahan dari sesuatu yang gak bernama ini. Di kepala aku banyak banget pertanyaan tentang apa sih yang ada di pikiran kamu, pernah gak sekali aja aku lewat di sana? Dan suatu hari aku pernah bikin list “hal-hal yang membuat kita gak bersatu”, panjang banget. Sampe aku kaget sendiri, ternyata emang sesulit itu untuk jadi kita.
Akhirnya aku ragu sama diri sendiri, pelan-pelan aku mulai jadi pahit. Padahal yang bikin kayak gini juga kamu. Terus aku mundur perlahan, karena yang ada di kepala aku tuh cuma “ah gak ada aku juga kamu masih bisa sama yang lain”.
Aku hidup berbulan-bulan tanpa kamu, mulai menghilangkan kebiasaan-kebiasaan kita, dan udah terbiasa kalo kamu gak ada pas aku pengen makan bubur tengah malem. Tapi tiba-tiba kamu dateng lagi, kamu bilang, gak ada yang lebih paham, pengertian, dan lebih sabar sama kelakuan ajaib kamu selain aku. Pokoknya kali ini kamu terlihat lebih yakin, kalo aku tuh satu-satunya. Tapi sayang banget, di saat bersamaan juga, aku sadar ternyata selama ini bukan kamu orangnya.
Selamat ya, kamu telat menyelamatkan apa yang seharusnya kamu jaga baik-baik. Lain kali, mungkin kamu harus lebih peka, kalo hidup itu bukan cuma tentang kamu. Tapi juga tentang orang yang diem-diem doain kesehatan kamu setiap hari, tapi kamu malah memilih untuk gak peduli.

Selasa, 18 Februari 2020

How Was Your Day?


Sudah satu jam aku duduk di kedai es krim ini. Sesekali membuka gawai, tetap tidak ada kabar, ternyata.
Kau tahu, aku baru saja membeli rok cokelat muda ini, yang aku padu padankan dengan baju rajut berwarna senada. Cukup lama aku berdandan di depan cermin, mencampur beberapa warna gincu di bibir, memberi sedikit rona merah muda di pipi, tak lupa alisku gambar dengan sangat hati-hati agar presisi antara kanan dan kiri.
“Dor!”
Kau membuyarkan lamunanku.
“Maaf ya aku telat, di jalan macet banget soalnya. Hehe.”

Ya Tuhan, sudah hampir satu bulan aku tak melihat senyuman ini. Senyuman yang membuatku tak ingin kemana-mana, selain menuju ia. Akhirnya laki-laki berbaju hitam dengan jaket biru ini ada di hapadanku juga.

“Kamu mau pesen apa?”
“Aku mau banana split aja deh, kamu?”
“Vanilla ice cream with oreo.” Jawabku kemudian.

Pesanan tiba, dan kamu masih diam seribu bahasa.
“Gimana kerjaan kamu?”
“Lancar. Gak ada masalah kok.”
“Oh iya, Ayahnya temen kamu yang minggu lalu masuk rumah sakit gimana kabarnya? Udah sembuh?”
“Udah pulang ke rumahnya.”

Kamu mulai membuka gawai, dan tertawa kecil entah karena apa.
“Kamu sampe hari apa sih libur? Aku pengen nonton deh, terus beli buku statistik yang lagi kamu cari, atau makan di resto seafood di deket sini. Kamu mau kan?”
“Iya, nanti aku usahain ya.”
“Kamu laper gak sih? Abis ini kita nakan dimsum yuk.”
“Aku gak laper.”
“Kalau aku traktir sate, masih gak laper juga?”

Kamu hanya diam, fokus pada gawai yang sedari tadi tak lepas dari genggamanmu. Aku bukan lagi pusat perhatianmu.
Ada malam yang ku habiskan dengan menangis. Pilu, saat kau tak lagi menanyakan kegiatanku, saat kamu sulit sekali dihubungi, dan saat kamu tak mengirim foto tentang keseharianmu.
Aku mengerti sibukmu.
Aku mengerti keangkuhanmu.
Aku mengerti ketidakpedulianmu.
Memangnya apa lagi yang tidak aku megerti tentangmu?
Jarak belasan kilometer itu hanya satuan rindu yang dulu, rela kau pangkas demi aku. Sekarang, jarak kita hanya satu hasta, namun terasa begitu jauh.
Kau sedang memikirkan apa?
Adakah aku di kepalamu?
Begitu banyak pertanyaan, es krim mulai mencair, kamu semakin dingin.
“Sayang, i love you.”
Tidak ada jawaban, hanya mata kita yang beradu, dan tidak lagi ada aku di situ.

Selasa, 12 November 2019

Selamat Tahun Baru, Tuan


Saya pernah dekat dengan beberapa jenis laki-laki, ada yang mencoba mendekati dengan puisi, bunga, bernyanyi, dan hal-hal chessy lainnya, yang akan membuat orang lain berpikir “ah, so sweeeeeet.”
Bahkan, 3 taun terakhir, di hari ulang tahun saya, bunga dalah hal yang pasti selalu ada. Saya hampir hidup berdampingan dengan hal-hal yang menurut standar perempuan, romantis.
Baik, hal itu membuat saya tersenyum, lalu berakhir begitu saja. Saya ulangi, begitu saja.
Pemahaman saya tentang romantis mungkin telah bergeser, karena menurut saya, romantis bukan perihal “cara” tapi ‘kemauan”.
Laki-laki ini, tidak pernah sekalipun menuliskan saya puisi, tapi berhasil membuat saya kegirangan merasa dimiliki.
Saya lupa kapan saya bilang suka minum Yakult, tidak suka makanan yang terlalu manis, dan malas memakan keripik pedas. Dan ya, ia ingat semua detailnya, yang ia bawa dalam sekantung pelastik jajanan kesukaan saya, di malam setelah ia pulang kuliah.
Saya yakin, ada banyak perempuan yang berpikir sejalan, adalah (ternyata) akan tersenyum saat diberi bunga, diberi keripik kentang akan sangat bahagia. Yang akan  mengucapkan “terima kasih” saat diberi puisi, tapi akan terharu sambil memeluk saat diberi koyo, vitamin, dan es krim saat jaga malam di rumah sakit.
Romantis adalah tentang mengingat pasanganmu yang belum makan malam, tentang ia yang menunggu waktu luang hanya untuk tau apa yang kamu lakukan seharian melalui pesan suara, tentang kecup di kening saat harus pulang ke rumah masing-masing karena bulan semakin meninggi.
Selamat ulang tahun, kamu. Yang selalu meminta maaf karena tidak bisa mengekpresikan cintanya dengan baik. Kamu tau tidak, di hari saya mengucapkan “iya” untuk menjadi bagian dari hidupmu, saat itu juga saya merasa digenapkan, merasa lebih dari cukup.
Semoga di usiamu yang baru, menjadikanmu pribadi yang lebih baik, berkembang, dan lebih bijak dalam menghadapi masalah. Dilimpahkan banyak kebahagiaan, dijauhkan dari kesedihan. Aamiin paling keras untuk setiap mimpi-mimpi yang kau semogakan, dan (semoga) saya bisa tetap di sini, menemanimu mencapainya satu persatu.
Terima kasih telah menjaga privasi saya dengan tidak menggunggah foto kita berdua di lini masa yang disertakan lokasinya.
Terima kasih, telah membiarkan saya tetap memiliki kehidupan sendiri. Sebuah hal sederhana, yang pada praktiknya, tidak semua pasangan memiliki kesadaran yang sama.
Saya cinta kamu, saat kamu diam karena cemburu, juga saat sebal menghadapi saya yang terlampau rindu.

Sabtu, 06 Juli 2019

Yang Lupa Ku Syukuri

Aku hanya ingin menulis ini. Entah untuk yang terakhir, atau nanti ada lagi.


Aku tidak pernah bingung, tentang bagaimana kau berpikir. Mengapa kau mengutuk es krim dan cokelat, tapi akan melumat habis yang ada di bibir ku. Mengapa kau selalu menolak makan kepiting, tapi diam-diam menghabiskan kerang saus padang pesanan ku. Dan kau selalu benci menggenggam tangan ku : "emangnya mau nyebrang?", tapi parkiran suatu mall pernah penuh oleh gema tawa mu saat menggendong tubuh ku "berat banget kayak karung beras".
Meski datang tanpa panduan, aku ingin menjadi yang termahir menerjemahkan mu. Dalam nihil cahaya, atau sekuat kuatnya lampu penerangan GBK. Dalam mode super tabah mu, atau sedang buas-buasnya kalau diganggu main game. Dalam wangi atau bau keringat orang sehabis naik motor. Pula dalam keadaan ketika kamu menyerah pada ketidak kuasaan mu menerjemahkan ku satu persatu.
Sebab rumah adalah tempat, dimana kau bisa menjadi diri mu seutuhnya. Walau kita sedang dalam perjalanan yang tak pernah sampai, selalu berhenti setiap terlalu jauh, terus berjalan meski lelah, dan mundur lagi karena terlalu dekat. Ku cinta kau dalam hening lelap tidur mu, hingga bising pinta ku untuk mu tetap menetap lebih lama dari selamanya.

Rabu, 30 Januari 2019

Berhenti

Sungguh aku tak bisa menjadi biasa saja. Karena sumpah demi Tuhan, rasa ini masih ada.
Mengenang senyum mu, sebenarnya aku tak ingin. Tapi seperti apa pun ketakutan dalam hidup, ia selalu mengejar ku hingga dada ini tak sanggup lagi berdegup.
Kau ada di setiap lagu yang ku dengar, kopi yang setiap pagi ku seduh, merupa hujan tengah malam, atau petugas bank yang kebetulan bajunya tercium parfum mu.
Langkah ku seringan permen kapas. Berharap cepat sampai ke tujuan, tak pernah lelah, namun di sana tak ada lagi kamu.
Pesta semalaman, lampu pinggir kota, bising di telinga, sungguh hura-hura yang percuma, jika setiap pagi yang ku tanya adalah "kau dimana?"
Akan ku jawab "iya", tapi tawaran dari mu tak pernah benar-benar ada. Sebab aku tak pernah cukup, membuat mu untuk tetap tinggal.
Aku rindu pada diri ku yang sebelum mengenal kamu. Yang tak perlu repot merapikan hati saat dengan sengaja kau acak-acak rambut ku. Yang tak perlu khawatir saat lambat laun ingatan mu tentang ku menyusut.
Aku terlalu jauh dari raga mu yang sekarang entah di dekap siapa. Semesta menarik semuanya dengan kuat, kecuali perasaan ku.
Menyesakan rasanya melihat mu tertawa, bukan karena aku tidak mau kau bahagia. Tapi karena ternyata, bukan aku lagi yang menjadi sebabnya.
Kini segala ingin hanya sekedar angan. Pada apa-apa yang ku semogakan, pada setiap syukur yang ku panjatkan, pada hal yang kau sebut cinta tapi tak pernah kau usahakan. Aku kalah.

Sabtu, 15 Desember 2018

Selalu Ada Alasan

"How was your day? Aku baru pulang latihan nih. Kamu udah mandi?"
Pesan yang tak pernah bosan ia kirimkan setiap malam. Yang akan saya balas dengan panjang lebar, sambil senyum-senyum dengan debar.
Semenyenangkan ini jatuh cinta. Saat ia ingat rasa es krim kesukaan saya, seberapa cintanya saya pada Sheila On 7 dan Cold Play, tau bahwa saya tak suka orang yang cerewet, juga tau pada penulis yang saya baca karya-karyanya.
Lalu kita saling menyebut sebagai bagian dari hidup. Seolah jarak bukan lagi satuan yang mesti di khawatirkan.
Tapi perlahan, duka mulai muncul ke permukaan. Ia yang terlalu sibuk, saya yang terlalu manja. Dan menyalahkan jarak sebagai dalangnya.
Meninggalkan menjadi jalan yang saya ambil. Meski pernah saya utarakan, betapa saya jatuh cinta pada cara ia berpikir, matanya yang coklat, pada aroma tubuhnya, kejutan-kejutan kecil yang ia kirim dari belahan bumi yang lain, juga segudang prestasi yang telah ia raih, tak cukup menjadi alasan untuk saya tetap tinggal.
Seolah saya lupa, sulitnya menuju ia. Karena meninggalkan, selalu ada alasan. Dan ironisnya, alasan itu telah hadir sejak pertama kita berikrar untuk saling mengasihi.
Padahal tak ada aturan baku untuk mencintai seseorang. Tapi mengapa, meninggalkan begitu mudah dilakukan?
Setiap karena mulai bermunculan, kadang benar, tak jarang dikarang-karang. Meninggalkan, selalu ada alasan. Saya tidak pernah menyesal telah pergi darinya. Saya hanya malu, jika menengok pada masa yang itu. Betapa saya, ternyata begitu pengecut untuk jujur bahwa saya bosan. Dan malah tak berusaha memperbaiki keadaan.
Terima kasih, untuk tidak menghabiskan waktu mu untuk tetap tinggal bersama saya, yang gagah meninggalkan saat kau dengan gigih mencintai saya tanpa alasan.

Selasa, 06 November 2018

Keluarga Ini Bernama Kojul

Saya sedang sendirian, saat air dari langit menghujam tanah dengan keras. Sesekali terdengar suara yang menggelegar di luar. Membuat saya semakin betah tidak melakukan apa pun di atas kasur.
Kemudian, saya ingat kalian. Sedang apa? Masih kah es krim menjadi teman setia kala hujan? Masih kah berani kuyup hanya demi semangkuk seblak setan? Masih kah tertawa terbahak-bahak untuk tetap menjaga kewarasan?
Atau diam-diam kalian meninggalkan semua ritual itu, hanya karena takut semakin rindu?
Maaf saya terlalu meracau. Sebab diri ini terlalu kacau, tanpa hadir kalian disisi.
Sebut saya mudah baper. Beberapa waktu lalu saya mencetak foto kalian, menempelnya di dinding kamar. Dan bodohnya, setiap mata saya berhenti pada senyum lebar di gambar, saat itu juga perasaan terasa sangat hambar.
Kepada Nuroh, saya ingin dipeluk lagi setiap pagi. Tentang tangis yang selalu berhasil tumpah, meski saya tak sedang patah. Cara mu menceritakan polisi tampan yang kau temui di jalan. Atau rengekan mu saat lapar, padahal baru 2 jam lalu perut terisi dengan penuh.
Deli, terima kasih untuk 3 tahun mendengarkan saya bercerita tentang nama yang sama, hingga saya mampu bangkit dan menjemput bahagia. Yang begitu yakin, saya akan menemukan yang lebih baik. Padahal dirinya sendiri lebam dihajar masa silam. Perempuan cerdas yang menenggelamkan diri di dunia Kpop,  tapi kerap menjadi cemoohan kami karena sikapnya yang aneh.
Jaka, laki-laki paling ambisius yang pernah saya temui. Membuat saya begitu semangat untuk selalu belajar, dan meraih apa pun yang saya kejar. Maaf pernah mematahkan diri mu begitu hebat,  sebab saya lebih nyaman menjadi sahabat. Saya tidak tahu, kemana saya harus pergi saat sedang tak percaya diri. Dulu saya begitu benci disuapi makanan menggunakan sendok sup. Dengan komposisi nasi lebih banyak dari lauk. Jika bisa diulang kembali, saya janji tidak akan ada sisa nasi di kotak bekal mu lagi. Juga saya tidak akan mengeluh jika tiba-tiba motor yang kita kendarai -gugun- , mogok di tengah jalan. Nanti kita bernyanyi lagi, hingga tak terasa motor mu telah sampai di depan pagar rumah.
Putri, keras kepala mu kerap membuat kepala yang lain juga pening. Mood yang berubah-ubah tapi mampu mengatasinya dengan mudah. Saya tahu, diri ini terlalu menyebalkan. Minta diberi solusi, tapi malah mengambil langkah sendiri. Tetap lah bergerak, put. Sebab diam tak akan mengantarkan mu pada siapa-siapa.
Ipih, kepala suku yang keputusannya sulit direcoki, kecuali oleh putri. Yang setiap tutur kata dan perbuatannya mampu membuat saya shalat lebih awal dari biasanya. Pernah menangis karena idolanya -Ariel Noah- dicaci maki. Yang juga begitu semangat mengajak kami menonton film bollywood, padahal di seperempat jalan film, kami tertidur.
Rohmani, perempuan tangguh yang mampu mengurus rumah, adik, ayah, juga kuliahnya diwaktu bersamaan. Yang pernah membalikan meja saat sedang marah. Gemar berolahraga juga naik gunung. Namun tak pernah sekali pun ku dengar, ia sakit. Terima kasih telah membuat saya yakin dengan jurusan kuliah yang saya ambil, semoga kita bisa bekerja di rumah sakit yang sama.
Hany, saya sebal jika kau sedang patah hati. Begitu tak punya kuasa atas diri. Tapi tak apa, nyatanya kau bisa melewatinya dengan baik-baik saja. Pernah makan nasi padang sebungkus berdua di gudang, karena tak mau berbagi dengan jaka. Kerap jatuh hati pada orang yang sama, lalu salah satu diantara kita akan mundur setelahnya. Maaf, saya belum bisa menemani mu berhijrah. Malah saya berjalan semakin mundur.
Deny, di ponselnya begitu banyak aplikasi. Berteman di dunia maya, padahal hanya beberapa yang menyayanginya dengan nyata. Apa pun yang keluar di mulutnya adalah belati. Terlalu banyak tertawa, sampai lupa kalau dirinya rapuh juga. Tapi tak pernah malu untuk terus belajar.
Windy, yang paling berbesar sabar dengan segala tingkah kami. Yang mengingatkan untuk selalu beristigfar sesaat setelah membicarakan orang lain. Kemudian, kami akan melanjutkannya lagi. Yang hampir tidak pernah bersedih, namun peluknya terasa begitu pelik.
Terima kasih, sudah bertahan sejauh ini. Saya terlalu meyebalkan memang. Keras kepala, kerap merasa diri paling benar, tak sabaran, dan terlalu peka pada apa yang seharusnya tak ada di kepala. Terima kasih, untuk segala dekap, tawa,  dan air mata yang pernah hadir. Lini terdepan yang saya cari ketika masalah tak henti-hentinya menghampiri. Kita pernah begitu kekanakan, sampai pada suatu masa kita mengerti, bahwa cinta bukan tentang selalu ada disisi. Melainkan rasa, yang tak pernah berhenti, meski jarak begitu jauh untuk ditapaki. Prioritas kita memang sudah berbeda, tapi saya tahu, kita masih saling cinta. Bersama kalian, saya tak pernah merasa lelah. Karena saya menjadi sejujur-jujurnya diri. Tanpa ada topeng, tanpa takut kalian akan meninggalkan saya. Selalu sehat dan berbahagia, ya. Semoga pendidikan dan pekerjaan kalian cepat rampung. Agar bisa pulang lagi ke Parung.
Penuh cinta, Bella. Yang rindu di dekap oleh alien semacam kalian.

Rabu, 31 Oktober 2018

Teruntuk Kamu Yang Melukis Binar

Aku tak pernah percaya pada kebetulan. Pada apa-apa yang memang seharusnya terjadi. Tanpa didramatisir, apa lagi diromantisasi.
Patah hati mu juga hancurnya hidup ku beberapa waktu lalu memang sudah diagendakan Tuhan, agar hari ini, aku banyak-banyak bersyukur. Menetap pada orang yang tepat.
Sejauh apa pun aku berlari, lapisan bening di mata ku saat mendengar nama mu, tak akan pernah bisa ku sembunyikan binarnya. Bahkan senyap di dada mu bisa ku dengar berapun satuan jaraknya.
Laki-laki yang tak bisa dipimpin, namun kerap mengalah karena sikap ku yang tak mau kalah. Yang bercerita sama sabarnya ketika mendengar. Yang tak pernah kasar saat marah. Yang mengizinkan ku menjadi diri sendiri. Yang memberi amanat agar aku selalu melakukan apa pun yang ku mau dengan penuh tanggung jawab. Cukup. Lantas, apa lagi yang ku cari?
Kepada tuan, yang selalu menggenggam dengan benar-benar apa pun yang kau anggap benar, terima kasih sudah mau menurunkan ego dan gengsinya. Untuk setiap perhatian, kejujuran, kejutan dan kasih sayangnya.
Sebab kau adalah hal baik yang dipersiapkan Tuhan. Alasan bibir ini melengkungkan senyum, bahkan mendung tak sempat mampir ke hidup ku. Percaya lah, kau sering kali ku ucap dalam syukur.

Minggu, 07 Oktober 2018

Yang Disiapkan Waktu

Aku masih ingat, hari itu melelahkan sekali. Belajar dari pagi hingga terbenam matahari. Belum lagi, tugas yang datang bertubi-tubi.
Aku ingin segera pulang ke kostan, menghempaskan badan ke kasur, sambil membaca lini kala di twitter, dengan lidah yang menjilati es krim rasa mangga.
Aku memperlambat langkah, saat ternyata ada kamu di parkiran kampus, dengan pacar mu, yang dulu tampak kau jaga dengan baik.
Pacar mu tampak cemberut, entah karena apa. Aku tidak terlalu peduli. Yang aku lihat adalah kamu yang berusaha membujuk ia agar tak marah lagi.
"Yaudah sini, lepas dulu tasnya, adek". Kata mu sambil menarik tas yang menggantung di bahunya.
"Apaan sih. Aku tuh capek tau gak." Umpat pacar mu, masih dengan bibir yang manyun.
"Ya makanya sini tasnya aku bawain, yuk makan aja yuk". Kamu masih saja membujuk dia, dengan tatapan penuh sayang.
Setelah itu aku tak mendengar apa-apa lagi, aku bergegas pulang. Entah kenapa, hari ku terasa semakin buruk.
Saat itu aku sedang cinta-cintanya pada rich brian, pada lagunya, pada cara ia bernyanyi, dan juga tingkahnya di panggung. Ya, saya mulai menghafal lirik lagunya, dengan tempo yang cepat, dan kemampuan berbahasa inggris saya yang tidak ada apa apanya. Tentu saja saya sering terbata-bata, karena kesulitan mengucapkan beberapa kata. Lalu, kamu melanjutkan lirik yang saya jeda, hingga lagunya selesai. Sepele, tapi saya senang.
Kamu pernah bercerita, saat cinta mu kandas begitu saja. Yang kau kira yang paling istimewa, tapi ternyata sama. Padahal kau terlihat begitu sayang, segala hal kau upayakan, tapi tak sebanding dengan apa yang dia lakukan.
Saya tau, dia berulang taun bulan mei, dan kamu memberikan boneka serta bunga. Ia tanpak senang sekali -aku melihat ini dari semua unggahan di sosial media mu- .
Kenapa? Kaget ya? Sebenarnya aku tak mau peduli, tapi instastory mu selalu berada di paling kiri. Menyebalkan.
Kau bercerita panjang sekali, tentang konsep sebuah hubungan, kepercayaan, kesetian dan sebagainya. Padahal aku tau, cinta tak lagi bermakna untuk mu. Perbincangan itu lewat begitu saja. Tak pernah ku cari tau kamu dimana, sedang suka apa, atau apa pun ; karena aku tau batasan antara dua orang yang mempunyai pasangan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Kok kita kalo ngobrol nyambung gini sih? Bahkan ketika aku diam, kamu paham apa yang aku maksud." Ucap mu sambil membawa susu kotak strobery dan es krim vanilla di kantong keresek berwarna putih.
"Iya, masa dulu pas aku nyanyi lagu rich brian yang judulnya dat stick, kamu pernah lanjutin liriknya sampe selesai." Jawab ku sambil terus mengingat kejadian setahun belakangan.
"Aku juga diem-diem nyanyi, kalo kamu muter lagu sementaranya float. Tapi kayaknya kamu gak denger deh."
Aku malas menanggapi, malah mengambil susu di tangan kanan mu.
"Kenapa harus susu strobery?" Tanya ku.
"Aku pernah liat kotak bekas susu strobery di tempat sampah mu, aku gak peduli itu punya siapa. Kayaknya sih punya kamu."
Iya, itu susu milik ku. Yang sudah habis, lalu ku buang ke tempat sampah. Tapi, bagaimana mungkin, kamu ingat?
"Kamu lucu kalo lagi bingung gitu." Kamu membuyarkan lamunan ku.
Malam itu kita menjadi orang tercerewet segalaksi, ku rasa. Bagaimana kamu ingat penyanyi kesukaan ku, buku yang ku baca juga film GoT yang ingin ku tonton tapi selalu tak sempat. Mengingat, betapa manisnya letupan di dada masa itu, tapi kita terlalu abai untuk sadar.
"Jadi, kamu punya gak sih sepupu atau teman yang sifatnya kayak kamu? Yang pola pikirnya kayak gini?" Ucap mu.
Aku bingung. "Gak ada, cuma satu di dunia."
"Yaudah, aku nunggu kamu bereinkarnasi aja."
Kamu terlalu gengsi mengakui, bahwa cinta telah mengisi dada mu. Sama naifnya dengan ku, yang mati-matian menolak rasa sejak dulu.
"Yaudah aku nyerah, aku mau tumpah ke dalam mu. Kalau suatu saat nanti, kamu hilang seperti yang sudah-sudah, ya silakan. Itu bukan hak ku, tapi aku tau kamu perempuan cerdas, yang menggunakan otaknya dengan baik saat melakukan sesuatu. Terserah kamu, asal tau batas ya." - Lelaki yang di matanya ada cinta dan galaksi, yang ingin ku cintai berkali-kali tanpa tapi.

Senin, 17 September 2018

Bianglala

Malam ini sama seperti malam-malam sebelumnya. Suara musik khas pasar malam, lampu warna-warni, loket pembelian karcis, tukang parkir yang melambai-lambai, gulali merah muda yang dibungkus pelastik bening, tawa anak-anak, juga wahana yang dicat sedemikian rupa agar tak terlihat membosankan.
Tapi kali ini, ada yang berbeda. Aku melihat pengunjung yang wajahnya murung,padahal ia terlihat telah mengelilingi tempat ini. Mungkin karena beban pekerjaan, habis putus cinta, atau kehabisan uang padahal gaji baru saja turun. Ah, mengapa aku sepeduli ini? Toh,semua yang datang kesini hanya untuk bersenang-senang, lalu pulang.
Tiba-tiba ia berada di tengah antrean karcis ku, bianglala berwarna biru dan merah jambu, dengan sedikit karat di bagian tempat duduk, namun tetap aman untuk ia singgahi.
Ia duduk, sendirian disini. Aku, mulai memutarkan tubuh ku, karena semua tempat telah penuh. Di puncak ketinggian ku, ada yang berteriak, tertawa keras sekali, atau berpelukan seperti sepasang muda mudi di tempat duduk nomer tiga. Tapi, laki-laki itu justru menggenggam besi-besi di tubuh ku dengan erat, memejamkan matanya, tanpa mengeluarkan suara apa-apa. Begitu terus hingga permainan usai.
Semenjak saat itu, aku selalu menunggu ia datang lagi. Laki-laki berkacamata kotak, dengan jaket yang selalu membungkus tubuhnya.
Pernah, suatu masa, ia membawa gulali, tertawa lebar sekali. Tapi tak jarang, ia datang dengan kesal, aku tak tahu kenapa. Ah, aku ingin sekali membuatnya selalu bahagia. Tanpa harus ada raut lelah di wajahnya, atau bahkan murung seperti saat pertama bertemu.
Ia datang hampir setiap hari, kadang terlalu larut. Jari-jarinya memegang erat besi ku, tapi begitu dingin. Aku ingin ia berbicara lebih banyak dari biasanya, tapi seperti yang selalu ia lakukan ; diam. Tidak, aku tidak pernah bosan dengan sikapnya. Hanya saja, ada pengunjung yang membuat ku begitu dianggap sangat menyenangkan. Ia datang dengan riang, tak pernah sekali pun menganggap ku sebagai tumpukan besi tua yang dicat sedemikian rupa. Lalu laki-laki berkaca mata itu, menghilang beberapa minggu. Aku sepi, tubuh ku dingin sekali. Tapi tetap bisa menikmati riuhnya pasar malam.
Bulan sedang cantik-cantiknya. Dan ternyata ia datang lagi, dengan kaus berwarna biru dan celana pendek. Aku rindu, pada tatap matanya yang tajam, senyum yang menggantung di wajahnya, juga aroma tubuhnya yang ingin ku hirup lebih lama dari biasanya. Banyak sekali yang ia bicarakan, aku senang mendengarnya, dan aku ingin mencintainya lebih dari sangat. Aku berhenti berputar, karena malam terlalu larut. Para pedagang mulai merapikan lapaknya, suara musik sudah tak terdengar, dan hanya ada beberapa tawa yang menggema di pojok parkiran. Ia turun, tapi tangannya tak henti memegangi besi ku, ini permainan terakhir katanya. Ia senang berada di wahana ini, tapi juga lelah, karena aku terlalu hangat pada pengunjung. Aku tak sempat menjelaskan apa-apa. Hanya lambai tangannya, yang bisa ku lihat dari sini. Untuk berteriak pun, aku tak sanggup. Punggungnya perlahan hilang, bersama hilangnya bayang.
Malam setelah itu, ia tak pernah datang lagi. Dan tak pernah ada lagi, pengunjung yang setenang dan sedingin ia saat berada disini. Kebanyakan, berteriak, tak jarang mengumpat. Ya, aku pikir aku telah berada di tempat lain, karena aku terus bergerak, nyatanya aku tetap disini, tak pernah berpindah kemana-mana.
---------------------------------
"Tuan, tak apa jika ingin datang terlalu larut, meski tanpa cahaya warna-warni, walau tak ada lagi gulali.
Maafkan aku yang terlalu hangat pada selain kamu. Aku hanya ingin menghabiskan waktu lebih lama dari selamanya, bersama mu. Terserah jika sebenarnya kau hanya butuh ramai, dan kebetulan ada aku disini. Ah sudah lah, kita hanya takut kesepian.
Untuk selamat tinggal malam itu, ya, mungkin kamu ingin pulang dengan selamat, sedangkan saya akan tetap tinggal." - Bianglala, yang juga butuh ramai, dan kebetulan ingin kamu yang melakukannya.

Senin, 27 Agustus 2018

Magic words

"Hari ini tes SBM ya? Semangat ya. Kalem aja,gak usah buru buru. Kerjain yang gampang dulu, jangan lupa sarapan." - Bapak, nelpon jam 4 pagi.
Simple kan? Tapi bikin hari gue cerah, seharian. Yang awalnya degdegan setengah idup dengan tangan yang keringet dingin, jadi agak tenang.
5 taun kebelakang, gue cuek banget sama hal kayak gini. "Buat apa sih? Deket juga nggak sama orang ini? Kenapa gue mesti sebegitunya?".
Lalu satu persatu teman gue mulai berkurang, terseleksi dengan sendirinya. Dulu temen gue banyak banget, sampe bingung, gue mau pake topeng yang mana buat nyengin hati atau sekedar bikin nyaman mereka. Kemudian, gue jadi lelah sendiri. Selalu ngerasa gak enakan, padahal ya, idup sendiri aja berantakan. Gue seneng, sekarang udah bisa ngelepasin toxic friend. Atau mereka yang minggat duluan. Gak guna juga lagian, malah jadi beban.
Beberapa temen bilang kalo gue susah diajak main, nggak kok. Gue mau-mau aja main sama lo, kemana pun itu. Tapi pertanyaan terpentingnya adalah, seberapa deket kita, sampe gue mau luangin waktu buat lo? Lo mau gak matiin hp lo, saat ngobrol sama gue?
Temen emang banyak, kalo sahabat bisa diitung pake jari. Kojul salah satunya. Tempat dimana gue bisa ketawa paling kenceng sama jokes yang gue ceritain sendiri. Makasih, guys. Jarang ada yang tahan sama gue sampe sebeginya.
Makin kesini, gue nganggep doa "semoga bahagia dan sehat selalu" adalah doa yang bukan hanya basa basi, tapi juga doa maha dahsyat nan tulus dari orang-orang yang gue sayang. Yang kemudian akan gue aamiinkan dengan lantang.
Juga ucapan "terimakasih" dan "maaf" yang kadang lupa atau males diucapin. Oke lah, lo gak gampang minta maaf sama orang, tapi bilang makasih? Masa susah sih?
Kadang kita terlalu muluk-muluk pengen menggenggam seisi semesta, padahal ada orangtua, sahabat, saudara, atau pasangan yang kita lupa untuk rekatkan hubungannya? Hambar, padahal pernah deket banget. Coba diperbaiki, barang kali, kita terlalu gak peduli.
Kalo mau minta apa-apa, dibiasain pake kalimat yang jelas, utuh dan sopan. Biar orang juga mau nolongin lo, berlaku juga buat ke Tuhan. Dan jangan lupa buat bilang makasih setelahnya, jangan kecewa juga kalo kemauannya gak bisa diturutin.
Jangan suka sok paling bisa apa-apa sendirian. Toh dihadapan semesta, lo juga bukan apa-apa. Tapi ketika ada orang baik yang mau bantu lo supaya bisa lakuin sesuatu, jangan dimanfaatin. Nanti balik lagi ke diri sendiri, loh~
Iya, ini semua self reminder buat gue. Lagi ngebiasain ngejaga jari dan mulut buat gak nyinyir sama apa yang orang lakuin, semuanya pasti ada alesan kenapa mereka begini, kenapa mereka begitu. Dan gue gak peduli juga, tiap orang punya struggle-nya masing-masing.
Lo gak tau kan, apa yang lo ketik, yang lo ucap bakalan senancep apa di hati orang lain. Betapa "semangat ya, kamu" bisa bikin orang senyum-senyum seharian. Atau "goblok banget sih, masa gini aja gak bisa handle?" Bisa bikin mood orang seketika berantakan.
Ucapan juga harus sejalan sama perbuatan. Katanya sayang, tapi gak pernah inget kalo tanggal sekian mau ketemuan. Katanya bilang maaf, tapi kesalahannya selalu diulang-ulang. Selalu minta tolong, tapi nada bicaranya marah-marah. Maneh cageur?
Mendoakan yang baik untuk orang-orang yang kita sayang, gak dibiasain mengumpat sama Tuhan kalo kena musibah, memuji atas pencapaian yang orang lain raih, adalah hal gampang yang harus dibiasain.
Dulu, waktu aliyah, guru gue, namaya Ibu X lagi makan es krim di bawah pohon, sendirian. Es krimnya cuman satu. Kemudian gue samperin, beliau nawarin, tentu gue tolak dong. Dari kejauhan, Ibu guru Z ngeliatin aja dari pintu, lalu masuk lagi ke dalem kantor.
Ibu X : "Aduh, dia kok liat sih gue lagi ngeskrim, ngambek deh pasti dia. Tadi lupa banget mau beli 2".
Gue : "Loh, Bu, itu kan cuma es krim. Bella beliin ke alfa aja apa nih, banyak. Murah lagi kalo modelan stik kayak gitu"
Ibu X : "Bukan masalah harganya, Bel. Tapi perkara dia, Ibu anggep ada apa nggak. Cara nyakitin orang tuh gampang kok ; bikin dia terlihat tidak istimewa aja, lukanya cukup dalem".
Setelah itu gue diem. Dan di hari-hari berikutnya, gue berusaha mengingat hari ulang taun orang-orang yang gue sayang, nyempetin nelpon orangtua dalam sehari, masakin makanan yang gue bisa, dengerin sahabat curhat jam 2 pagi, nyisain makanan buat abang yang kerja sampe malem, atau minimal meluk mereka pas lagi sedih-sedihnya. Gue tau itu gak terlalu bantu, tapi setidaknya mereka merasa gak sendirian.
Karena, sekali lagi. Kita gak pernah tau pengaruh apa yang akan timbul atas apa yang kita ucap, kita lakuin, dan kita ketik di sosial media.

Senin, 18 Juni 2018

Dini Hari Dan Tidur Yang "Nanti Lagi"

Aku benci terbangun di pukul 3 dini hari. Gelapnya, heningnya, sepinya, juga segala yang riuh di dalam kepala. Sulit membuat tidur setelahnya.
Dini hari, waktunya tubuh istirahat dan merebah. Tapi hati, meminta ku untuk mengingat mu sekali lagi. Sebelum matahari mengasingkan diri ku jauh sekali.
Pernah, pada suatu masa, aku berada di waktu tersibuk mu, pukul 3 sore hari. Diantara pekerjaan yang tak kunjung usai, diantara macet jalan raya, berada dalam dilema makan sekarang atau nanti malam. Dan kau selalu sempat  menyapa ku lewat gawai, supaya hati-hati di jalan, memastikan tak ada ibadah yang ku tinggal.
Padahal, waktu terbaik mengingat seseorang adalah pukul 3 dini hari. Saat mata terlalu berat, kaki terlalu pegal berjalan, dan tubuh enggan berpindah dari kasur, tetapi isi kepala terlalu sesak menyimpan namanya.
Diantara cahaya bulan, ia hadir, tapi tak mampu menggenapkan kekosongan. Menyusup dalam bait bait doa, namun tak kuasa terbang ke langit untuk diaamiinkan. Menjelma menjadi lagu sendu yang tak sengaja diputar. Menikmati kehampaan, dengan sesekali terdengar suara sesegukan.
Diam diam ternyata aku rindu, pada sapa mu kala hari yang terlalu berat. Pada dekap yang selalu bisa membuat ku terlelap. Pada hal-hal sederhana yang tak lagi kau lakukan.
Percakapan dini hari ini terlalu melelahkan. Ingin pulang, dan mengetuk hatinya untuk menemukan mu jauh di dalamnya, bertemu sekali lagi, mendekap mu erat-erat, sampai kemudian aku tersadar, di mata mu, tak ada lagi aku.


Senin, 12 Februari 2018

Lebih dari kamu

Sudah lama saya tidak menulis tentang kamu. Selain karena menyusutnya ingatan saya kepada kamu, juga karena saya sudah bertemu yang saya kira, lebih baik dari pada kamu.
Saya selalu berdoa agar kamu baik baik saja dan berbahagia, seperti saya dengan pasangan baru saya.
Ini sedikit terlambat, menemukan pengganti mu setelah 4 tahun saya kesulitan bangun dari jatuh, saat sedang cinta-cintanya pada kamu. Tak apa, saya tetap bersyukur menemukan ia, yang tentu saja lebih membahagiakan dari kamu.
Kamu jangan dulu besar kepala, kamu bukan lagi yang paling istimewa. Hal-hal kecil yang membuat saya, dulu, begitu jatuh cinta pada kamu, di lakukan juga oleh ia. Menikmati dinginnya es krim dalam dekapnya, mengelilingi sudut kota hanya untuk makan malam di pinggir jalan, pelukan saat isi kepala terlalu kacau, dan juga candaan aneh yang selalu berhasil membuat perut saya kram.
Dia tidak romantis, sama seperti mu. Bahkan ia tidak bisa bermain alat musik, untuk sekedar menghibur ketika tiba tiba saya merasa amat berantakan. Tapi entah kenapa, candanya selalu mampu menerbangkan kupu-kupu di perut saya.
Saya butuh waktu 1 tahun untuk memberikan separuh hidup saya kepada kamu, tapi kepadanya, saya hanya butuh satu kali dekap untuk menyerahkan segala urusan saya. Iya, ini kesalahan yang saya sesali pada akhirnya.
Saya masih ingat betapa hampanya hidup tanpa kamu, betapa hancurnya saya saat itu. Saya bersumpah, itu adalah patah hati terhebat yang tidak ingin saya ulangi lagi rasanya. Tapi kadang, ekspetasi tidak selalu berjalan beriringan dengan kenyataan.
Hati saya hancur berantakan lagi. Saya kira, saya satu-satunya, tapi ternyata saya hanya salah satunya. Rasa yang saya dapatkan hari ini, sama sakitnya dengan saat itu.
Kalau ada penghargaan untuk kategori pematah hati terbaik, bukan lagi kamu yang akan menang. Dia melakukannya dengan lebih hebat.
Saya menyimpannya di kepala setiap hari, mengingat setiap detail dalam dirinya, mengupayakan agar ia selalu bahagia dan nyaman bersama saya, juga memberikan kepercayaan penuh padanya. Namun, kini saya sadar, saya hanya jatuh cinta sendirian.
Saya kira, perhatian dan kebahagian yang ia suguhkan itu hanya untuk saya, nyatanya tidak. Ia sudah lebih dulu menggenggam hati yang lain, jauh sebelum saya bertemu dia. Mungkin salah saya terlalu melibatkan perasaan pada sesuatu yang masih terlihat bias. Salah saya, terlalu mudah menggantungkan bahagia dan harapan pada ia.
Ini hanya sebagian upaya, agar bukan melulu kamu yang saya rindu. Tapi saya tidak menyangka, akan sepatah hati ini oleh ia, yang saya kira yang terbaik setelah kamu.
Jika sebelumnya, merindukan mu terasa berat, kali ini, yang berat adalah melepaskan ia yang telah membuat saya diinginkan lalu kemudian menghempas saya seolah saya bukan apa-apa di hadapan semesta.

Kamis, 14 Desember 2017

Pagi dan kopi

Pagi ini biasa saja. Hanya kebetulan ada kamu di ujung kasur dengan kopi hitam sedikit gula dan setumpuk pekerjaan mu.
Pagi ini biasa saja. Hanya kebetulan kamu tak henti-hentinya tersenyum di sebrang sana, dan aku hanya bisa menunduk sambil mengaduk-ngaduk teh di depan ku.
Pagi ini juga biasa saja, sebelum ada yang mengetuk pintu apartemen mu dengan tak sabar. Kemudian setelah itu, kamu mendorong ku bersembunyi di lemari pakaian mu, membuang tas dan baju-baju ku ke tempat sampah di sudut kamar mu.
Kamu membukanya perlahan, ia menyambutnya dengan berkali kali kecupan. Menanyakan mengapa ponsel mu tidak aktif sejak pulang kantor, dan kamu akan menjelaskan betapa pekerjaan menyita banyak sekali waktu dan pikiran. Ia mengerti, dan pamit untuk pergi entah kemana,sambil terus mendekap dan mengucap kata sayang.
Pintu kembali di kunci, perlahan kamu mengetuk lemari coklat yang sedari tadi menjadi tempat ku menahan gejolak dalam dada. Setelah itu kamu meminta maaf, sekali lagi. Lagi. Dan lagi.
Aku ingin mengutuk diri berkali kali, atas jatuhnya hati ini, pada mu yang telah terikat pada janji suci. Tapi sayangnya itu tak akan mengubah apa pun dalam dada mu.
Kemana lagi aku harus bersembunyi? Di bawah kasur yang telah menjadi tempat mu mencumbu ku hingga pagi? Di kamar mandi yang membuat kulit kita basah bersama sama? Atau di balik meja kerja mu yang mempertemukan bibir kita pada saat itu?
Aku lelah, sayang. Menjadi telinga untuk segala keluh kesah mu, menjadi mata untuk duka mu, menjadi kesayangan, tapi bukan kebanggan mu.
Bisa kah kita berhenti saja sampai disini? Berhenti pada tahap aku yang tak mau diacak-acak lagi hidupnya oleh kamu? Berhenti memberi harapan di antara "jika ia begitu penting, mengapa aku rela membagi waktu,uang,cinta,setiap sisi dan sisa ku pada mu?"
Kepada kamu, berhenti lah bermain. Hari sudah pagi, silakan pergi. Pada rumah mu, yang ku tahu, jelas, bukan aku.

Kamis, 17 Agustus 2017

Sudah. Cukup.

Aku masih saja mengaduk-ngaduk es kelapa di hadapan ku, mengira di bawah sana masih ada residu gula dan susu. Padahal yang jelas-jelas tersisa, hanya kamu yang ada di kepala. Dada ku tidak berdegup sama sekali, saat aku bertemu kamu lagi setelah bertaun-taun lalu kamu memilih minggat dari hidup ku. Hanya ada sesak disana, menanyakan hal basa-basi saja aku tak kuasa.
Kamu terlalu menakjubkan. Singgah yang ku syukuri berkali kali. Dan patah yang ku simpan berlama lama.
Hari ini kau buat kupu kupu di perut ku terbang, berputar-putar bahkan. Tapi bisa saja esoknya kamu pergi ke konser raisa dengan perempuan lain. Dengan mu bahagia begitu sering menghampiri, tapi bisa saja setelah ini aku akan menangis meraung-raung hingga aku lelah sendiri dengan sikap mu. Begitu terus,sampai akhirnya kamu memutuskan untuk pergi, untuk membuat ku berhenti bersedih, kata mu.
Namun semuanya terasa tidak pernah baik-baik saja. Bagaimana aku bisa mengahadapi segala "tuntutan" prestasi dari sekolah? Bagaimana mungkin aku bisa menghadapi perceraian orang tua? Dengan siapa lagi aku harus membagi segala luka dan duka? Tanpa mu, aku kosong.
Berbahagia itu pilihan ku. Tanpa mu, baiknya aku tak perlu memilihnya. Namun hidup harus tetap berjalan, dengan siapa pun kamu bahagia. Banyak singgah yang ku lakukan, dan tentu saja, semuanya selalu ku sanggah.
Hari ini aku memutuskan untuk bertemu kamu lagi, bukan karena rindu ku telalu jalang. Bukan juga karena tawa mu yang menggemaskan. Aku merasa sudah cukup. Cukup membuat dada ku sesak tiba tiba, karena unggahan di sosial media mu. Cukup membuat ku sulit tidur, saat tiba tiba kamu kembali ke dalam dunia ku. Cukup membuat ia merasa tak adil saat aku dalam dekapnya, tapi malah kamu yang memenuhi ruang hati.
Satu langkah besar untuk ku, meminta maaf pada mu karena aku tak cukup menjadi alasan untuk tetap tinggal. Mendeklarasikan bahwa aku pernah menangis pukul 2 dini hari, karena rindu telalu bising di dalam kepala.
Kamu adalah sosok paling menyenangkan yang tak pernah kutemui dalam diri orang lain. Saat kamu datang ke dalam hidup ku lagi, jelas, itu bukan lagi urusan ku.
Dengan habisnya es kelapa di hadapan ku, ku pastikan juga segala sesal, kecewa, rindu, benci dan rasa "hanya kamu yang ku mau"- ku, gugur saat ini juga. Dada ku terlalu lapang jika diisi oleh kamu seorang. Bukan hanya karena kamu bahagia ku, lantas membuat ku tak mau tau siapa bahagia mu. Cukup,kamu bukan lagi semesta ku.

Rabu, 10 Mei 2017

Janmadina mubāraka

Apa rasanya menjadi perempuan berkepala batu? Menyenangkan kah? Atau justru merepotkan diri sendiri? Ah, sepertinya aku tak perlu bertanya lagi, sebab kau tak pernah absen melakukannya.
Banyak orang yang menjauhi mu di saat yang lain justru tak mau kehilangan sedetik dalam hidupnya tanpa mu. Tenang, ini hanya sebagian dari proses kehidupan. Bukan kah melakukan kesalahan di atas kaki sendiri lebih baik dari pada berbuat baik tapi terikat dengan orang lain? Kau tau betul, kesalahan harus di betulkan, di saat terkadang kepala mu tak bisa membedakan mana yang salah dan mana yang betul.
Aku paham kau tak pernah mau memakai sandal merk tertentu, tak suka baju yang banyak dikenakan perempuan di jalanan, dan lebih memilih tak menggunakan polesan di wajah jika yang kau temui sekotak peralatan kecantikan tanpa sertifikasi aman dan halal. Tak apa, menjadi perempuan cerdas dan berstandar tinggi memang kewajiban.
Hati mu bagaimana? Masih kah si brengsek itu mengacak-ngacak hari mu? Jika iya, calm down, aku tak akan marah. Itu pilihan mu. Pilihan mu saat ia datang dengan senang lalu pergi dengan menyisakan luka di dalam dada. Pilihan mu saat ia bersadar di bahu mu, mengajak mu ke kedai kopi, padahal bukan hanya kamu yang ada di dalam hati. Pilihan mu saat ia melarang mu melakukan apa yang ia dan agamanya larang, padahal kamu bisa saja menutup telinga. Itu pilihan mu, sayang. Karena mungkin aku akan melakukan hal yang lebih gila dan merepotkan diri sendiri jika sedang jatuh kedalam diri seseorang.
Berduka dan berluka di saat kau jauh dari keluarga adalah hal yang berlipat-lipat lebih menyesakan,tapi untungnya kau masih punya sajadah untuk bersujud dan menangis sejadi-jadinya.
Sungguh aku tak peduli jika kepala mu berisi protes ini dan itu tentang sesuatu,tak peduli jika kamu bersikap yang paling benar,tak peduli jika kamu jatuh cinta pada laki-laki yang tak pernah  ganti kaos kaki. Baik dan buruk mu telah ku terima dengan baik.
Banyak hal yang berubah dari aku, pun kamu. Tapi posisi mu tak pernah berubah, di dalam hati ini. Yang berkali-kali aku syukuri, karena ada kamu disini. Terimakasih untuk tetap jujur dan tulus tanpa ku minta, untuk tetap tinggal di saat banyak hal dalam hidup ku minggat satu persatu. Terimakasih telah menampar dan memeluk ku di saat bersamaan.
Selamat bertumbuh dan bertambah usia, Nurohndee. Suka makan, nonton drakor, dan joget itu tak masalah. Selama kamu bahagia, semuanya akan baik-baik saja. Menjaga kesehatan itu sama pentingnya dengan menjaga hati dari kakak tingkat yang padahal udah semester 5 keatas tapi masih doyan nyepik. Haha
Berbagai masalah kehidupan telah kamu lewati, dan kamu bisa berada di posisi sekarang lalu berbahagia sampai hari ini. Semoga menjadi perempuan cerdas, mandiri dan sukses bukan hanya sekedar wacana ya, Ndee. Bahagia itu datang saat kamu bisa merasakan nikmatnya beribadah, dan nikmatnya belanja ini itu tanpa perlu mikirin besok pagi makan apa. ((((((intensitas nabung sama dengan intensitas hedon,ya gapapa laaaa~~))))

Dari aku yang dari kemarin mau ngepost tapi riweuh belajar ngedit foto sama benerin kaidah menulis. Yang rindu di dekap saat kesedihan tak nampak di permukaan.



Kamis, 04 Mei 2017

Take it easy

Sebenernya udah lama pengen nulis yang agak random,tapi gimana gitu,kan niat awal bikin blog ini ya buat tempat pepuisian sama bikin cerpen gloomy-gloomy ga ngambung aja sih,tapi karena lagi bosen bikin cerpen,curhat aja gapapa lah ya. Gapapa dong,please,jangan ngambek. *vn dengan suara paling lembut*
Kemaren kemaren,lagi beres-beres kamar,banyak banget kardus(isinya maenan,buku-buku,baju bekas,dan tentu saja ; sampah). Bentuk kardusnya macem-macem,dan biasanya sengaja gue bungkus pake kertas kado biar rapi. Dan diantara sekian kardus,ada satu kardus yang ga ada bungkusnya tapi dari luar ada label bertulisan "jangan di buka kalo belom bisa beli lipstik harga 500k". Gue senyum kecut,sial.
Isinya beberapa surat cinta dari mantan pacar yang palingan cuma jadian 2 bulan -(iya gue kalo pacaran suka dibikinin sketsa muka gue atau puisi,receh tapi manis). Aksesoris hadiah dari temen-temen kesayangan. Gelang dan bandana yang entah dari siapa. Dan binder yang ga setebel buku catetan kasbon di warung.
Sampulnya warna biru muda,di hardcovernya tertulis "punya puan yang kalo bete harus diajak ngeskrim". Baru inget,ternyata buku ini berisi impian,"shock therapy" yang gue terapin sama diri sendiri,kebahagiaan yang datang tanpa aba-aba,dan catatan duka yang pernah gue tulis. Gue senyum lagi.
Dulu gue punya kebisaan,kalo lagi marah,gue tulis umpatan dan segala macem kata-kata kasar,terus gue tutup buku ini,gue lempar ke kolong kasur (gue tau,hal negatif harus dikeluarin,asal bukan dengan cara ngomelin orang,norak). Kalo lagi sedih,gue tulis lebih banyak lagi kesedihan yang lebih parah dari ini,lalu gue akan tersadar,kesedihan yang ini bukan apa-apa. Buktinya,gue baik-baik aja sampe hari ini. Atau kalo lagi remuk banget hatinya,gue inget-inget lagi setiap kebahagiaan atau nikmat yang ga pernah lupa Allah kasih,walau pun guenya kadang suka ga inget sama Dia.
Temen gue banyak,tapi gue bukan tipe orang yang mudah percaya sama orang lain. Gue percaya,manusia itu ga ada yang jujur,kecuali sama diri sendiri,lagian males juga cerita sama yang bukan bikin tenang,kalo bukan sama yang bolak balikin perasaan.
Sebetulnya gue tuh orangnya gampang nangis. Gampang iba sama orang. Gampang move on juga (yang ini lagi ngejokes). Tapi satu hal yang sedari dulu gue tanem dalam diri "lu boleh nangis sepuasnya,merasa Allah ga adil,merasa semuanya akan berakhir hari ini juga. Tapi cuma 3 hari ini aja. Besok-besok,lupain kalo lu pernah seduka ini,menjadi perempuan paling bahagia di seantero galaksi lagi". Its work,suddenly i feel like the man cant be moved. Engga. I feel better kok. 
Gue juga selalu membiasakan diri buat nulis segala impian gue di buku ini,dan gue tulis setiap progresnya. Kalo belom keliatan,ya gue tulis juga kenapa gue ga berubah-berubah. Kebanyakan berhasil bikin gue memaki-maki diri sendiri,karena merasa payah ga bisa nepatin janji untuk berubah pada diri sendiri. Haha
Gue ga pernah takut ga diakui sama lingkungan. Toh ga semua orang muji dengan jujur atas apa yang udah kita capai. Gue sering digosipin sama temen sendiri,gue mikirnya mungkin dia lagi khilaf atau guenya yang khilaf. Intinya fokus aja memperbaiki diri,jangan pernah denger apa kata orang,sekali pun omongan mereka bener soal keburukan idup lu,toh lu udah berusaha berhijrah disaat mereka masih sibuk ngurusin idup orang lain.
Idup gue sedih mulu? Kata siapa? Gue selalu punya cara buat bahagiain diri sendiri. Ngopi di tempat fancy,ke bioskop sendirian,dandan,bikin cupcake,belanja buku dan baju sampe berjuta-juta,bahkan makan es krim yang harganya gocengan aja gue bahagia. Bahagia itu kita yang rasain,standar bahagianya mungkin beda. Tapi tujuannya cuma satu kan,supaya bisa tenang,dan ga riweuh,seriweuh apa pun semesta meriweuhi elu.
Temen-temen lu pada liburan keliling indonesia mulu? Temen lu beli gadget baru? Temen lu make sneakers jordan? Ya nabung lah,jangan males jadi orang. Jangan keliatan miskin,kan udah. Tidak ada yang sia-sia jika kamu mau berusaha. Asal jangan jadi simpenan om-om aja sih.
Ah,buku ini banyak merubah gue. Mengontrol setiap emosi yang sebenernya udah meletup-letup di dalam dada,tapi gue tahan dengan cara menuliskannya disini. Maaf lu selalu gue banting-banting kalo lagi marah. Tapi satu hal yang gue sadarin ; gue ga sebaik gue pas sama elu,waktu gue rajin banget nulis di setiap bagian halaman yang lu punya. Huhu. Udah ah,mau lunasin utang negara dulu,pake uang yang dipinjem dari bank monopoli. Engga lucu ya? Iya lah,aku kan bukan kamu. Uwuwuwuw

Penuh cinta,muach!

Rabu, 22 Maret 2017

Semesta ku,bianglala paling menyenangkan.

Beberapa hari belakangan,tiba-tiba saya rindu,bukan,bukan rindu mantan. Tapi rindu kalian. Terlalu munafik jika saya bilang kalian teman yang baik,nyatanya kalian adalah teman terbrengsek yang pernah saya temui. Bukan karena kalian merebut pacar saya,bukan karena kalian bermuka dua di depan saya,atau karena kalian datang saat kalian butuh saja,tapi lebih karena kalian bisa menunjukan sisi terburuk dalam diri,dan tidak pernah berpura-pura baik. Tapi bukan berarti kalian tidak punya sesuatu yang membanggakan ya.
Pertemuan kita berawal di sekolah dan kelas yang sama,awalnya kalian terlalu aneh dan menyebalkan menurut saya. Nde dan windy terlihat seperti pemeran antagonis di sinetron sctv,cipot perempuan penggemar MU yang pernah tergila-gila pada lelaki yang tak pernah ganti kaos kaki,jaka laki laki ternyaman yang pernah membuat hati saya terpeleset padanya,deli dan deni yang kerap kali membuat saya muak karena terus menerus bercerita tentang k-pop,ipih perempuan yang pernah tersedu sedu saat idolanya (Ariel noah) dicaci maki oleh orang lain,hani dan putri yang sering menyusahkan jika moodnya sedang berantakan,atau rohmani perempuan kampungan yang setiap hari seperti sedang pms. Menyebalkan bukan?
Tapi lain cerita setelah kami 4 bulan saling mengenal,saya seperti sedang berada di dufan. Menyenangkan. Rasanya setiap hari ingin bertemu,mengobrol,menghabiskan waktu bersama,tapi tidak sampai ingin bercumbu.
Kita berbeda,tentu saja. Kita bisa ribut karena perbedaan selera makan siang ,cemburuan saat yang lain lebih akrab dengan teman lain kubu,bisa berselisih paham tentang rasa es krim apa yang nikmat dimakan di hari jumat,tinggi gengsi dan ego,cerewet setengah mati,ada pula yang selalu ingin di dengar suaranya ketika yang lain berusaha menyeimbangkan pendapat. Sampai pada akhirnya,kami "kehilangan". Karena terlalu sering beda arah dan tidak ada yang mau mengalah. Tapi untungnya saya dapat menerima keputusannya,tanpa merubah keyakinan di hati saya tentang kalian,bahwa kalian menyanyangi saya seperti yang saya lakukan pada kalian.
Sekarang,kami sudah baik baik saja. Kami terlalu kekanak kanakan memang,dulu. Dan saya tidak peduli jumlah kalian sekarang,yang jelas hanya kalian yang mampu membuat saya berhenti menangis saat pendidikan saya gagal,yang membuat saya baik baik saja ketika hanya ada selembar dua ribuan di dompet,yang membuat saya lupa bahwa saya perempuan baik baik,yang membuat saya kuat saat di rumah sedang banyak masalah,yang membuat saya percaya,kasih sayang bisa di dapatkan dimana saja.
Teruntuk kalian,yang sedang mengupayakan kehidupan yang lebih layak dan mapan,tetap semangat seletih apa pun kalian setiap hari,biasakan mengkonsumsi vitamin karena saya tau kegiatan kalian padat luar biasa,jaga hubungan baik dengan Allah dan orang tua niscaya Ia akan mudahkan segala urusan.
Empat tahun adalah waktu yang teralalu cepat mengubah kalian,dan saya bersyukur karenanya. Terimakasih untuk dekap dan ocehannya,terimakasih untuk selalu hadir di saat saya terlalu menyebalkan untuk dinasehati,terimakasih untuk menjadi satu satunya yang di rindu ketika kesepian dan kesedihan berpadu satu.

Dari aku,yang mencintai kalian dengan utuh tanpa jenuh.

Sabtu, 11 Maret 2017

Tok-tok!!

Kamu bilang,jangan begadang. Aku iyain.
Kamu bilang,jangan makan nasi sama mi instan. Aku iyain.
Kamu bilang,jangan makan es krim terus. Aku turutin.
Tapi kamu juga yang nelpon aku tengah malem,cuma buat bilang "semangat ya tidurnya". Kamu juga yang bikinin aku makan siang nasi goreng pake mi telor. Kamu juga yang beliin aku es krim vanilla pas aku ngambek.
Jadi,kamu ga usah larang-larang aku.
Hari ini aku lagi pengen nyender di tempat  duduk kamu,kalo perlu sampe ketiduran di meja yang alasnya ada jaket abu-abu kamu.
Hari ini aku ga mau pulang cepet,gapapa kalo nanti abang ku marah-marah dan ibu ku memotong uang saku ku. Aku bakal ikut,kemana pun kamu hari ini. Aku janji ga bakal ketiduran di jalan lagi.
Hari ini aku mau deh makan mi ayam ga pake sambel,asal kamu jangan manyun terus pas aku lupa nyimpen buku atau dvd yang kamu pinjemin ke aku.
Hari ini aku janji deh bakalan meluk kamu dari belakang kalo kamu sengaja ngebut pas boncengin aku.
Hari ini aku bakalan dengerin kamu cerita tentang tetangga kamu yang kalo di rumah ga pernah ikut gotong royong itu,bakal dengerin cerita keponakan kamu yang pengen punya orang tua super hero,atau cerita apa pun,sampe kamu capek sendiri.
Hari ini aku menulis lagi,siapa tau kamu rindu atau nyesel pernah bikin aku jadi orang yang lupa caranya ketawa.
Kesalahan aku emang banyak. Ga pernah bisa nurut sama apa yang kamu bilang,tapi aku ga peduli. Toh,cuma kamu yang bisa bikin aku ketawa sama hal-hal sepele. Tapi itu ga cukup,kata kamu.
Terserah kata kamu deh,yang jelas,aku bakal tetep dan selalu rindu kamu. Walau pun kamu pernah bilang,jangan rindu sama kamu lagi.
Soalnya aku udah maafin salahnya kamu sebelum kamu minta maaf. Biar kamu tau,setiap orang butuh kesempatan kedua. Biar kamu tau,yang sekarang lagi meluk kamu belum tentu sesayang aku.