Apa rasanya menjadi perempuan berkepala batu? Menyenangkan kah? Atau justru merepotkan diri sendiri? Ah, sepertinya aku tak perlu bertanya lagi, sebab kau tak pernah absen melakukannya.
Banyak orang yang menjauhi mu di saat yang lain justru tak mau kehilangan sedetik dalam hidupnya tanpa mu. Tenang, ini hanya sebagian dari proses kehidupan. Bukan kah melakukan kesalahan di atas kaki sendiri lebih baik dari pada berbuat baik tapi terikat dengan orang lain? Kau tau betul, kesalahan harus di betulkan, di saat terkadang kepala mu tak bisa membedakan mana yang salah dan mana yang betul.
Aku paham kau tak pernah mau memakai sandal merk tertentu, tak suka baju yang banyak dikenakan perempuan di jalanan, dan lebih memilih tak menggunakan polesan di wajah jika yang kau temui sekotak peralatan kecantikan tanpa sertifikasi aman dan halal. Tak apa, menjadi perempuan cerdas dan berstandar tinggi memang kewajiban.
Hati mu bagaimana? Masih kah si brengsek itu mengacak-ngacak hari mu? Jika iya, calm down, aku tak akan marah. Itu pilihan mu. Pilihan mu saat ia datang dengan senang lalu pergi dengan menyisakan luka di dalam dada. Pilihan mu saat ia bersadar di bahu mu, mengajak mu ke kedai kopi, padahal bukan hanya kamu yang ada di dalam hati. Pilihan mu saat ia melarang mu melakukan apa yang ia dan agamanya larang, padahal kamu bisa saja menutup telinga. Itu pilihan mu, sayang. Karena mungkin aku akan melakukan hal yang lebih gila dan merepotkan diri sendiri jika sedang jatuh kedalam diri seseorang.
Berduka dan berluka di saat kau jauh dari keluarga adalah hal yang berlipat-lipat lebih menyesakan,tapi untungnya kau masih punya sajadah untuk bersujud dan menangis sejadi-jadinya.
Sungguh aku tak peduli jika kepala mu berisi protes ini dan itu tentang sesuatu,tak peduli jika kamu bersikap yang paling benar,tak peduli jika kamu jatuh cinta pada laki-laki yang tak pernah ganti kaos kaki. Baik dan buruk mu telah ku terima dengan baik.
Banyak hal yang berubah dari aku, pun kamu. Tapi posisi mu tak pernah berubah, di dalam hati ini. Yang berkali-kali aku syukuri, karena ada kamu disini. Terimakasih untuk tetap jujur dan tulus tanpa ku minta, untuk tetap tinggal di saat banyak hal dalam hidup ku minggat satu persatu. Terimakasih telah menampar dan memeluk ku di saat bersamaan.
Selamat bertumbuh dan bertambah usia, Nurohndee. Suka makan, nonton drakor, dan joget itu tak masalah. Selama kamu bahagia, semuanya akan baik-baik saja. Menjaga kesehatan itu sama pentingnya dengan menjaga hati dari kakak tingkat yang padahal udah semester 5 keatas tapi masih doyan nyepik. Haha
Berbagai masalah kehidupan telah kamu lewati, dan kamu bisa berada di posisi sekarang lalu berbahagia sampai hari ini. Semoga menjadi perempuan cerdas, mandiri dan sukses bukan hanya sekedar wacana ya, Ndee. Bahagia itu datang saat kamu bisa merasakan nikmatnya beribadah, dan nikmatnya belanja ini itu tanpa perlu mikirin besok pagi makan apa. ((((((intensitas nabung sama dengan intensitas hedon,ya gapapa laaaa~~))))
Dari aku yang dari kemarin mau ngepost tapi riweuh belajar ngedit foto sama benerin kaidah menulis. Yang rindu di dekap saat kesedihan tak nampak di permukaan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar