Aku tak pernah percaya pada kebetulan. Pada apa-apa yang memang seharusnya terjadi. Tanpa didramatisir, apa lagi diromantisasi.
Patah hati mu juga hancurnya hidup ku beberapa waktu lalu memang sudah diagendakan Tuhan, agar hari ini, aku banyak-banyak bersyukur. Menetap pada orang yang tepat.
Sejauh apa pun aku berlari, lapisan bening di mata ku saat mendengar nama mu, tak akan pernah bisa ku sembunyikan binarnya. Bahkan senyap di dada mu bisa ku dengar berapun satuan jaraknya.
Laki-laki yang tak bisa dipimpin, namun kerap mengalah karena sikap ku yang tak mau kalah. Yang bercerita sama sabarnya ketika mendengar. Yang tak pernah kasar saat marah. Yang mengizinkan ku menjadi diri sendiri. Yang memberi amanat agar aku selalu melakukan apa pun yang ku mau dengan penuh tanggung jawab. Cukup. Lantas, apa lagi yang ku cari?
Kepada tuan, yang selalu menggenggam dengan benar-benar apa pun yang kau anggap benar, terima kasih sudah mau menurunkan ego dan gengsinya. Untuk setiap perhatian, kejujuran, kejutan dan kasih sayangnya.
Sebab kau adalah hal baik yang dipersiapkan Tuhan. Alasan bibir ini melengkungkan senyum, bahkan mendung tak sempat mampir ke hidup ku. Percaya lah, kau sering kali ku ucap dalam syukur.
Rabu, 31 Oktober 2018
Teruntuk Kamu Yang Melukis Binar
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar