Kepada tuan yang tidak pernah bosan pada nikotin,
Sudah berapa batang tembakau yang kau hisap hari ini? Berapa
teguk RJ yang kau minum malam ini? Kamu mandi jam berapa? Eh,maaf aku terlalu
lancang untuk menanyakan hal ini lagi.
Sebenarnya ini hanya surat-surat dalam paragraph yang tak
sempat kau baca sebelumnya. Ini juga bukan sesuatu yang penting lagi untuk
mu,tapi kali ini,tolong bersikap tenang,baca pelan-pelan.
Tuan,mungkin pagi mu bukan tentang menunggu kabar ku
lagi,mimpi mu bukan untuk ku lagi,dan rindu mu juga bukan tentang ku lagi.
Maaf untuk malam itu,jelas aku yang salah. Harusnya aku
membicarakannya lebih dulu,agar kamu tidak sejauh ini. Sampai paragraf
ini,kamu masih sanggup membacanya,kan?
Tuan,seperti kata ku malam itu,aku selalu merasa jatuh cinta
lagi,saat melihat mu tertawa atau saat kau menghisap rokok dalam-dalam. Tapi
entah mengapa,sumuanya lenyap dalam sekejap. Apa jangan-jangan aku terlambat
menyadari,bahwa dengan mu,hanya pelepas penat ku? Atau mungkin semua ini tak
lebih dari sisa cerita kita yang belum selesai?
Tuan,terlalu banyak hal yang kutakutkan. Aku takut
ketinggian,takut dimarahi guru kimia karena tidur saat jam pelajarannya,takut
mengecewakan orang tua,dan takut terlambat mewujudkan segala ingin di angan.
Jadi,sudah paham kan,mengapa aku melangkah sejauh ini?
Kalau sampai hari ini kamu belum mau menyapa ku,tak masalah.
Terserah juga kalau kamu berpikir macam-macam tentang ku. Maaf kalau malam itu
aku terlalu terburu-buru,aku tak pandai merangkai kata “pamit”.
Terimakasih untuk cotton candy-nya,manis. Semoga kamu bisa
menjadi sebaik-baiknya laki-laki untuk dipasangkan dengan perempuan yang
baik-baik pula. Atau kamu masih percaya kalau ” jodoh tidak akan kemana-mana”?.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar