Kamis, 25 Agustus 2016

cotton candy



Kepada tuan yang tidak pernah bosan pada nikotin,
Sudah berapa batang tembakau yang kau hisap hari ini? Berapa teguk RJ yang kau minum malam ini? Kamu mandi jam berapa? Eh,maaf aku terlalu lancang untuk menanyakan hal ini lagi.
Sebenarnya ini hanya surat-surat dalam paragraph yang tak sempat kau baca sebelumnya. Ini juga bukan sesuatu yang penting lagi untuk mu,tapi kali ini,tolong bersikap tenang,baca pelan-pelan.
Tuan,mungkin pagi mu bukan tentang menunggu kabar ku lagi,mimpi mu bukan untuk ku lagi,dan rindu mu juga bukan tentang ku lagi.
Maaf untuk malam itu,jelas aku yang salah. Harusnya aku membicarakannya lebih dulu,agar kamu tidak sejauh ini. Sampai paragraf ini,kamu masih sanggup membacanya,kan?
Tuan,seperti kata ku malam itu,aku selalu merasa jatuh cinta lagi,saat melihat mu tertawa atau saat kau menghisap rokok dalam-dalam. Tapi entah mengapa,sumuanya lenyap dalam sekejap. Apa jangan-jangan aku terlambat menyadari,bahwa dengan mu,hanya pelepas penat ku? Atau mungkin semua ini tak lebih dari sisa cerita kita yang belum selesai?
Tuan,terlalu banyak hal yang kutakutkan. Aku takut ketinggian,takut dimarahi guru kimia karena tidur saat jam pelajarannya,takut mengecewakan orang tua,dan takut terlambat mewujudkan segala ingin di angan. Jadi,sudah paham kan,mengapa aku melangkah sejauh ini?
Kalau sampai hari ini kamu belum mau menyapa ku,tak masalah. Terserah juga kalau kamu berpikir macam-macam tentang ku. Maaf kalau malam itu aku terlalu terburu-buru,aku tak pandai merangkai kata “pamit”.
Terimakasih untuk cotton candy-nya,manis. Semoga kamu bisa menjadi sebaik-baiknya laki-laki untuk dipasangkan dengan perempuan yang baik-baik pula. Atau kamu masih percaya kalau ” jodoh tidak akan kemana-mana”?.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar