Hari itu aku duduk disudut kelas,menikmati
sendu bersama suara hujan. Sampai pada akhirnya kau datang menghampiri ku
dengan ekspresi kebingungan.
“Ada apa? Mengapa kau terlihat bersedih?.”
Kata mu yang tiba tiba duduk didepan ku.
“Aku sedang tidak baik baik saja,aku baru
saja kehilangan.” Ucap ku sambil memandangi hujan.
“Kehilangan sesuatu yang sudah menjadi masa
lalu?.” Pertanyaan itu keluar bersama tatapan penasaran.
Aku memberanikan diri menatap mu,”Begitu
lah.” Kata ku.
“Ayo lah tak usah menangis tersedu sedu.
Semuanya sudah berlalu.” Terdengar nada seperti menyemangati.
Aku hanya diam.
Lalu kau melanjutkan kalimat mu lagi,
“Gelap pasti berganti terang,kau tak perlu khawatir. Kau hanya perlu
mengikhlaskan.”
“Bagaimana mungkin aku bisa mengikhlaskan seseorang
yang baru saja mampir pada sudut hati ini? Ia pergi terlalu cepat.” Ucap ku
dengan suara sedikit bergetar.
“Ia pasti punya alasan untuk meninggalkan
mu,mungkin saja ia masih mencintai mu. Ia sudah pergi,kau harus menerima
kenyataan bahwa hatinya bukan lagi untuk mu.”
“Jika ia mencintai ku,mengapa ia terlalu
cepat pergi? Apa cinta tak bias datang tanpa membawa kesedihan?.” Mata ku mulai
berkaca kaca tak bisa menahan sendu yang ada.
“Tenang lah nona,tak usah terburu buru
seperti itu. Tuhan menciptakan kebahagiaan dan kesedihan dalam satu paket,tak
usah berlarut dalam kesedihan. Tak usah memikirkannya lagi,ia sudah pergi.”
Kata mu yang masih menatap ku lekat.
“Asal kau tau saja,mengikhlaskan tak pernah
sesingkat tangisan perpisahan.” Ucap ku dengan suara purau.
“Aku mengerti,tapi pesta sudah usai
nona,saatnya menyambut hari baru. Maafkan masa lalu mu,biarkan ia tertinggal
dibelakang.” Kata mu yang berusaha menumbuhkan harapan.
Aku mulai terisak,tapi berusaha mengelak.
“Jika aku sudah mengikhlaskan,dan aku merindukannya dengan teramat sangat,apa
yang harus ku lakukan?.”
“Kau masih bisa menemuinya untuk sekedar
minum kopi bersama,ku rasa kalian masih bisa berteman. Mulai hari ini kau harus
ceria lagi,tak usah bersedih seperti itu. Biarkan ia pergi.”
Aku berdiri,dan melangkahkan kaki keluar
kelas. Tapi kau berteriak dari belakang. “Mau kemana kau? Diluar masih hujan.”
“Tak masalah,aku selalu suka hujan. Hari
ini aku baru saja kehilangan seseorang,dan ia baru saja memberi ku nasihat
untuk melepaskan. Mengapa cinta membuat mu begitu cepat mengikhlaskan?.”
“…”
Parungpanjang,22 desember 2014.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar