Jumat, 06 Februari 2015

Mengikhlaskan

Hari itu aku duduk disudut kelas,menikmati sendu bersama suara hujan. Sampai pada akhirnya kau datang menghampiri ku dengan ekspresi kebingungan.
“Ada apa? Mengapa kau terlihat bersedih?.” Kata mu yang tiba tiba duduk didepan ku.
“Aku sedang tidak baik baik saja,aku baru saja kehilangan.” Ucap ku sambil memandangi hujan.
“Kehilangan sesuatu yang sudah menjadi masa lalu?.” Pertanyaan itu keluar bersama tatapan penasaran.
Aku memberanikan diri menatap mu,”Begitu lah.” Kata ku.
“Ayo lah tak usah menangis tersedu sedu. Semuanya sudah berlalu.” Terdengar nada seperti menyemangati.
Aku hanya diam.
Lalu kau melanjutkan kalimat mu lagi, “Gelap pasti berganti terang,kau tak perlu khawatir. Kau hanya perlu mengikhlaskan.”
“Bagaimana mungkin aku bisa mengikhlaskan seseorang yang baru saja mampir pada sudut hati ini? Ia pergi terlalu cepat.” Ucap ku dengan suara sedikit bergetar.
“Ia pasti punya alasan untuk meninggalkan mu,mungkin saja ia masih mencintai mu. Ia sudah pergi,kau harus menerima kenyataan bahwa hatinya bukan lagi untuk mu.”
“Jika ia mencintai ku,mengapa ia terlalu cepat pergi? Apa cinta tak bias datang tanpa membawa kesedihan?.” Mata ku mulai berkaca kaca tak bisa menahan sendu yang ada.
“Tenang lah nona,tak usah terburu buru seperti itu. Tuhan menciptakan kebahagiaan dan kesedihan dalam satu paket,tak usah berlarut dalam kesedihan. Tak usah memikirkannya lagi,ia sudah pergi.” Kata mu yang masih menatap ku lekat.
“Asal kau tau saja,mengikhlaskan tak pernah sesingkat tangisan perpisahan.” Ucap ku dengan suara purau.
“Aku mengerti,tapi pesta sudah usai nona,saatnya menyambut hari baru. Maafkan masa lalu mu,biarkan ia tertinggal dibelakang.” Kata mu yang berusaha menumbuhkan harapan.
Aku mulai terisak,tapi berusaha mengelak. “Jika aku sudah mengikhlaskan,dan aku merindukannya dengan teramat sangat,apa yang harus ku lakukan?.”
“Kau masih bisa menemuinya untuk sekedar minum kopi bersama,ku rasa kalian masih bisa berteman. Mulai hari ini kau harus ceria lagi,tak usah bersedih seperti itu. Biarkan ia pergi.”
Aku berdiri,dan melangkahkan kaki keluar kelas. Tapi kau berteriak dari belakang. “Mau kemana kau? Diluar masih hujan.”
“Tak masalah,aku selalu suka hujan. Hari ini aku baru saja kehilangan seseorang,dan ia baru saja memberi ku nasihat untuk melepaskan. Mengapa cinta membuat mu begitu cepat mengikhlaskan?.”

“…”



Parungpanjang,22 desember 2014.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar