Aku masih ingat, hari itu melelahkan sekali. Belajar dari pagi hingga terbenam matahari. Belum lagi, tugas yang datang bertubi-tubi.
Aku ingin segera pulang ke kostan, menghempaskan badan ke kasur, sambil membaca lini kala di twitter, dengan lidah yang menjilati es krim rasa mangga.
Aku memperlambat langkah, saat ternyata ada kamu di parkiran kampus, dengan pacar mu, yang dulu tampak kau jaga dengan baik.
Pacar mu tampak cemberut, entah karena apa. Aku tidak terlalu peduli. Yang aku lihat adalah kamu yang berusaha membujuk ia agar tak marah lagi.
"Yaudah sini, lepas dulu tasnya, adek". Kata mu sambil menarik tas yang menggantung di bahunya.
"Apaan sih. Aku tuh capek tau gak." Umpat pacar mu, masih dengan bibir yang manyun.
"Ya makanya sini tasnya aku bawain, yuk makan aja yuk". Kamu masih saja membujuk dia, dengan tatapan penuh sayang.
Setelah itu aku tak mendengar apa-apa lagi, aku bergegas pulang. Entah kenapa, hari ku terasa semakin buruk.
Saat itu aku sedang cinta-cintanya pada rich brian, pada lagunya, pada cara ia bernyanyi, dan juga tingkahnya di panggung. Ya, saya mulai menghafal lirik lagunya, dengan tempo yang cepat, dan kemampuan berbahasa inggris saya yang tidak ada apa apanya. Tentu saja saya sering terbata-bata, karena kesulitan mengucapkan beberapa kata. Lalu, kamu melanjutkan lirik yang saya jeda, hingga lagunya selesai. Sepele, tapi saya senang.
Kamu pernah bercerita, saat cinta mu kandas begitu saja. Yang kau kira yang paling istimewa, tapi ternyata sama. Padahal kau terlihat begitu sayang, segala hal kau upayakan, tapi tak sebanding dengan apa yang dia lakukan.
Saya tau, dia berulang taun bulan mei, dan kamu memberikan boneka serta bunga. Ia tanpak senang sekali -aku melihat ini dari semua unggahan di sosial media mu- .
Kenapa? Kaget ya? Sebenarnya aku tak mau peduli, tapi instastory mu selalu berada di paling kiri. Menyebalkan.
Kau bercerita panjang sekali, tentang konsep sebuah hubungan, kepercayaan, kesetian dan sebagainya. Padahal aku tau, cinta tak lagi bermakna untuk mu. Perbincangan itu lewat begitu saja. Tak pernah ku cari tau kamu dimana, sedang suka apa, atau apa pun ; karena aku tau batasan antara dua orang yang mempunyai pasangan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Kok kita kalo ngobrol nyambung gini sih? Bahkan ketika aku diam, kamu paham apa yang aku maksud." Ucap mu sambil membawa susu kotak strobery dan es krim vanilla di kantong keresek berwarna putih.
"Iya, masa dulu pas aku nyanyi lagu rich brian yang judulnya dat stick, kamu pernah lanjutin liriknya sampe selesai." Jawab ku sambil terus mengingat kejadian setahun belakangan.
"Aku juga diem-diem nyanyi, kalo kamu muter lagu sementaranya float. Tapi kayaknya kamu gak denger deh."
Aku malas menanggapi, malah mengambil susu di tangan kanan mu.
"Kenapa harus susu strobery?" Tanya ku.
"Aku pernah liat kotak bekas susu strobery di tempat sampah mu, aku gak peduli itu punya siapa. Kayaknya sih punya kamu."
Iya, itu susu milik ku. Yang sudah habis, lalu ku buang ke tempat sampah. Tapi, bagaimana mungkin, kamu ingat?
"Kamu lucu kalo lagi bingung gitu." Kamu membuyarkan lamunan ku.
Malam itu kita menjadi orang tercerewet segalaksi, ku rasa. Bagaimana kamu ingat penyanyi kesukaan ku, buku yang ku baca juga film GoT yang ingin ku tonton tapi selalu tak sempat. Mengingat, betapa manisnya letupan di dada masa itu, tapi kita terlalu abai untuk sadar.
"Jadi, kamu punya gak sih sepupu atau teman yang sifatnya kayak kamu? Yang pola pikirnya kayak gini?" Ucap mu.
Aku bingung. "Gak ada, cuma satu di dunia."
"Yaudah, aku nunggu kamu bereinkarnasi aja."
Kamu terlalu gengsi mengakui, bahwa cinta telah mengisi dada mu. Sama naifnya dengan ku, yang mati-matian menolak rasa sejak dulu.
"Yaudah aku nyerah, aku mau tumpah ke dalam mu. Kalau suatu saat nanti, kamu hilang seperti yang sudah-sudah, ya silakan. Itu bukan hak ku, tapi aku tau kamu perempuan cerdas, yang menggunakan otaknya dengan baik saat melakukan sesuatu. Terserah kamu, asal tau batas ya." - Lelaki yang di matanya ada cinta dan galaksi, yang ingin ku cintai berkali-kali tanpa tapi.
Minggu, 07 Oktober 2018
Yang Disiapkan Waktu
Senin, 17 September 2018
Bianglala
Malam ini sama seperti malam-malam sebelumnya. Suara musik khas pasar malam, lampu warna-warni, loket pembelian karcis, tukang parkir yang melambai-lambai, gulali merah muda yang dibungkus pelastik bening, tawa anak-anak, juga wahana yang dicat sedemikian rupa agar tak terlihat membosankan.
Tapi kali ini, ada yang berbeda. Aku melihat pengunjung yang wajahnya murung,padahal ia terlihat telah mengelilingi tempat ini. Mungkin karena beban pekerjaan, habis putus cinta, atau kehabisan uang padahal gaji baru saja turun. Ah, mengapa aku sepeduli ini? Toh,semua yang datang kesini hanya untuk bersenang-senang, lalu pulang.
Tiba-tiba ia berada di tengah antrean karcis ku, bianglala berwarna biru dan merah jambu, dengan sedikit karat di bagian tempat duduk, namun tetap aman untuk ia singgahi.
Ia duduk, sendirian disini. Aku, mulai memutarkan tubuh ku, karena semua tempat telah penuh. Di puncak ketinggian ku, ada yang berteriak, tertawa keras sekali, atau berpelukan seperti sepasang muda mudi di tempat duduk nomer tiga. Tapi, laki-laki itu justru menggenggam besi-besi di tubuh ku dengan erat, memejamkan matanya, tanpa mengeluarkan suara apa-apa. Begitu terus hingga permainan usai.
Semenjak saat itu, aku selalu menunggu ia datang lagi. Laki-laki berkacamata kotak, dengan jaket yang selalu membungkus tubuhnya.
Pernah, suatu masa, ia membawa gulali, tertawa lebar sekali. Tapi tak jarang, ia datang dengan kesal, aku tak tahu kenapa. Ah, aku ingin sekali membuatnya selalu bahagia. Tanpa harus ada raut lelah di wajahnya, atau bahkan murung seperti saat pertama bertemu.
Ia datang hampir setiap hari, kadang terlalu larut. Jari-jarinya memegang erat besi ku, tapi begitu dingin. Aku ingin ia berbicara lebih banyak dari biasanya, tapi seperti yang selalu ia lakukan ; diam. Tidak, aku tidak pernah bosan dengan sikapnya. Hanya saja, ada pengunjung yang membuat ku begitu dianggap sangat menyenangkan. Ia datang dengan riang, tak pernah sekali pun menganggap ku sebagai tumpukan besi tua yang dicat sedemikian rupa. Lalu laki-laki berkaca mata itu, menghilang beberapa minggu. Aku sepi, tubuh ku dingin sekali. Tapi tetap bisa menikmati riuhnya pasar malam.
Bulan sedang cantik-cantiknya. Dan ternyata ia datang lagi, dengan kaus berwarna biru dan celana pendek. Aku rindu, pada tatap matanya yang tajam, senyum yang menggantung di wajahnya, juga aroma tubuhnya yang ingin ku hirup lebih lama dari biasanya. Banyak sekali yang ia bicarakan, aku senang mendengarnya, dan aku ingin mencintainya lebih dari sangat. Aku berhenti berputar, karena malam terlalu larut. Para pedagang mulai merapikan lapaknya, suara musik sudah tak terdengar, dan hanya ada beberapa tawa yang menggema di pojok parkiran. Ia turun, tapi tangannya tak henti memegangi besi ku, ini permainan terakhir katanya. Ia senang berada di wahana ini, tapi juga lelah, karena aku terlalu hangat pada pengunjung. Aku tak sempat menjelaskan apa-apa. Hanya lambai tangannya, yang bisa ku lihat dari sini. Untuk berteriak pun, aku tak sanggup. Punggungnya perlahan hilang, bersama hilangnya bayang.
Malam setelah itu, ia tak pernah datang lagi. Dan tak pernah ada lagi, pengunjung yang setenang dan sedingin ia saat berada disini. Kebanyakan, berteriak, tak jarang mengumpat. Ya, aku pikir aku telah berada di tempat lain, karena aku terus bergerak, nyatanya aku tetap disini, tak pernah berpindah kemana-mana.
---------------------------------
"Tuan, tak apa jika ingin datang terlalu larut, meski tanpa cahaya warna-warni, walau tak ada lagi gulali.
Maafkan aku yang terlalu hangat pada selain kamu. Aku hanya ingin menghabiskan waktu lebih lama dari selamanya, bersama mu. Terserah jika sebenarnya kau hanya butuh ramai, dan kebetulan ada aku disini. Ah sudah lah, kita hanya takut kesepian.
Untuk selamat tinggal malam itu, ya, mungkin kamu ingin pulang dengan selamat, sedangkan saya akan tetap tinggal." - Bianglala, yang juga butuh ramai, dan kebetulan ingin kamu yang melakukannya.
Senin, 27 Agustus 2018
Magic words
"Hari ini tes SBM ya? Semangat ya. Kalem aja,gak usah buru buru. Kerjain yang gampang dulu, jangan lupa sarapan." - Bapak, nelpon jam 4 pagi.
Simple kan? Tapi bikin hari gue cerah, seharian. Yang awalnya degdegan setengah idup dengan tangan yang keringet dingin, jadi agak tenang.
5 taun kebelakang, gue cuek banget sama hal kayak gini. "Buat apa sih? Deket juga nggak sama orang ini? Kenapa gue mesti sebegitunya?".
Lalu satu persatu teman gue mulai berkurang, terseleksi dengan sendirinya. Dulu temen gue banyak banget, sampe bingung, gue mau pake topeng yang mana buat nyengin hati atau sekedar bikin nyaman mereka. Kemudian, gue jadi lelah sendiri. Selalu ngerasa gak enakan, padahal ya, idup sendiri aja berantakan. Gue seneng, sekarang udah bisa ngelepasin toxic friend. Atau mereka yang minggat duluan. Gak guna juga lagian, malah jadi beban.
Beberapa temen bilang kalo gue susah diajak main, nggak kok. Gue mau-mau aja main sama lo, kemana pun itu. Tapi pertanyaan terpentingnya adalah, seberapa deket kita, sampe gue mau luangin waktu buat lo? Lo mau gak matiin hp lo, saat ngobrol sama gue?
Temen emang banyak, kalo sahabat bisa diitung pake jari. Kojul salah satunya. Tempat dimana gue bisa ketawa paling kenceng sama jokes yang gue ceritain sendiri. Makasih, guys. Jarang ada yang tahan sama gue sampe sebeginya.
Makin kesini, gue nganggep doa "semoga bahagia dan sehat selalu" adalah doa yang bukan hanya basa basi, tapi juga doa maha dahsyat nan tulus dari orang-orang yang gue sayang. Yang kemudian akan gue aamiinkan dengan lantang.
Juga ucapan "terimakasih" dan "maaf" yang kadang lupa atau males diucapin. Oke lah, lo gak gampang minta maaf sama orang, tapi bilang makasih? Masa susah sih?
Kadang kita terlalu muluk-muluk pengen menggenggam seisi semesta, padahal ada orangtua, sahabat, saudara, atau pasangan yang kita lupa untuk rekatkan hubungannya? Hambar, padahal pernah deket banget. Coba diperbaiki, barang kali, kita terlalu gak peduli.
Kalo mau minta apa-apa, dibiasain pake kalimat yang jelas, utuh dan sopan. Biar orang juga mau nolongin lo, berlaku juga buat ke Tuhan. Dan jangan lupa buat bilang makasih setelahnya, jangan kecewa juga kalo kemauannya gak bisa diturutin.
Jangan suka sok paling bisa apa-apa sendirian. Toh dihadapan semesta, lo juga bukan apa-apa. Tapi ketika ada orang baik yang mau bantu lo supaya bisa lakuin sesuatu, jangan dimanfaatin. Nanti balik lagi ke diri sendiri, loh~
Iya, ini semua self reminder buat gue. Lagi ngebiasain ngejaga jari dan mulut buat gak nyinyir sama apa yang orang lakuin, semuanya pasti ada alesan kenapa mereka begini, kenapa mereka begitu. Dan gue gak peduli juga, tiap orang punya struggle-nya masing-masing.
Lo gak tau kan, apa yang lo ketik, yang lo ucap bakalan senancep apa di hati orang lain. Betapa "semangat ya, kamu" bisa bikin orang senyum-senyum seharian. Atau "goblok banget sih, masa gini aja gak bisa handle?" Bisa bikin mood orang seketika berantakan.
Ucapan juga harus sejalan sama perbuatan. Katanya sayang, tapi gak pernah inget kalo tanggal sekian mau ketemuan. Katanya bilang maaf, tapi kesalahannya selalu diulang-ulang. Selalu minta tolong, tapi nada bicaranya marah-marah. Maneh cageur?
Mendoakan yang baik untuk orang-orang yang kita sayang, gak dibiasain mengumpat sama Tuhan kalo kena musibah, memuji atas pencapaian yang orang lain raih, adalah hal gampang yang harus dibiasain.
Dulu, waktu aliyah, guru gue, namaya Ibu X lagi makan es krim di bawah pohon, sendirian. Es krimnya cuman satu. Kemudian gue samperin, beliau nawarin, tentu gue tolak dong. Dari kejauhan, Ibu guru Z ngeliatin aja dari pintu, lalu masuk lagi ke dalem kantor.
Ibu X : "Aduh, dia kok liat sih gue lagi ngeskrim, ngambek deh pasti dia. Tadi lupa banget mau beli 2".
Gue : "Loh, Bu, itu kan cuma es krim. Bella beliin ke alfa aja apa nih, banyak. Murah lagi kalo modelan stik kayak gitu"
Ibu X : "Bukan masalah harganya, Bel. Tapi perkara dia, Ibu anggep ada apa nggak. Cara nyakitin orang tuh gampang kok ; bikin dia terlihat tidak istimewa aja, lukanya cukup dalem".
Setelah itu gue diem. Dan di hari-hari berikutnya, gue berusaha mengingat hari ulang taun orang-orang yang gue sayang, nyempetin nelpon orangtua dalam sehari, masakin makanan yang gue bisa, dengerin sahabat curhat jam 2 pagi, nyisain makanan buat abang yang kerja sampe malem, atau minimal meluk mereka pas lagi sedih-sedihnya. Gue tau itu gak terlalu bantu, tapi setidaknya mereka merasa gak sendirian.
Karena, sekali lagi. Kita gak pernah tau pengaruh apa yang akan timbul atas apa yang kita ucap, kita lakuin, dan kita ketik di sosial media.
Senin, 18 Juni 2018
Dini Hari Dan Tidur Yang "Nanti Lagi"
Dini hari, waktunya tubuh istirahat dan merebah. Tapi hati, meminta ku untuk mengingat mu sekali lagi. Sebelum matahari mengasingkan diri ku jauh sekali.
Pernah, pada suatu masa, aku berada di waktu tersibuk mu, pukul 3 sore hari. Diantara pekerjaan yang tak kunjung usai, diantara macet jalan raya, berada dalam dilema makan sekarang atau nanti malam. Dan kau selalu sempat menyapa ku lewat gawai, supaya hati-hati di jalan, memastikan tak ada ibadah yang ku tinggal.
Padahal, waktu terbaik mengingat seseorang adalah pukul 3 dini hari. Saat mata terlalu berat, kaki terlalu pegal berjalan, dan tubuh enggan berpindah dari kasur, tetapi isi kepala terlalu sesak menyimpan namanya.
Diantara cahaya bulan, ia hadir, tapi tak mampu menggenapkan kekosongan. Menyusup dalam bait bait doa, namun tak kuasa terbang ke langit untuk diaamiinkan. Menjelma menjadi lagu sendu yang tak sengaja diputar. Menikmati kehampaan, dengan sesekali terdengar suara sesegukan.
Diam diam ternyata aku rindu, pada sapa mu kala hari yang terlalu berat. Pada dekap yang selalu bisa membuat ku terlelap. Pada hal-hal sederhana yang tak lagi kau lakukan.
Percakapan dini hari ini terlalu melelahkan. Ingin pulang, dan mengetuk hatinya untuk menemukan mu jauh di dalamnya, bertemu sekali lagi, mendekap mu erat-erat, sampai kemudian aku tersadar, di mata mu, tak ada lagi aku.
Senin, 12 Februari 2018
Lebih dari kamu
Sudah lama saya tidak menulis tentang kamu. Selain karena menyusutnya ingatan saya kepada kamu, juga karena saya sudah bertemu yang saya kira, lebih baik dari pada kamu.
Saya selalu berdoa agar kamu baik baik saja dan berbahagia, seperti saya dengan pasangan baru saya.
Ini sedikit terlambat, menemukan pengganti mu setelah 4 tahun saya kesulitan bangun dari jatuh, saat sedang cinta-cintanya pada kamu. Tak apa, saya tetap bersyukur menemukan ia, yang tentu saja lebih membahagiakan dari kamu.
Kamu jangan dulu besar kepala, kamu bukan lagi yang paling istimewa. Hal-hal kecil yang membuat saya, dulu, begitu jatuh cinta pada kamu, di lakukan juga oleh ia. Menikmati dinginnya es krim dalam dekapnya, mengelilingi sudut kota hanya untuk makan malam di pinggir jalan, pelukan saat isi kepala terlalu kacau, dan juga candaan aneh yang selalu berhasil membuat perut saya kram.
Dia tidak romantis, sama seperti mu. Bahkan ia tidak bisa bermain alat musik, untuk sekedar menghibur ketika tiba tiba saya merasa amat berantakan. Tapi entah kenapa, candanya selalu mampu menerbangkan kupu-kupu di perut saya.
Saya butuh waktu 1 tahun untuk memberikan separuh hidup saya kepada kamu, tapi kepadanya, saya hanya butuh satu kali dekap untuk menyerahkan segala urusan saya. Iya, ini kesalahan yang saya sesali pada akhirnya.
Saya masih ingat betapa hampanya hidup tanpa kamu, betapa hancurnya saya saat itu. Saya bersumpah, itu adalah patah hati terhebat yang tidak ingin saya ulangi lagi rasanya. Tapi kadang, ekspetasi tidak selalu berjalan beriringan dengan kenyataan.
Hati saya hancur berantakan lagi. Saya kira, saya satu-satunya, tapi ternyata saya hanya salah satunya. Rasa yang saya dapatkan hari ini, sama sakitnya dengan saat itu.
Kalau ada penghargaan untuk kategori pematah hati terbaik, bukan lagi kamu yang akan menang. Dia melakukannya dengan lebih hebat.
Saya menyimpannya di kepala setiap hari, mengingat setiap detail dalam dirinya, mengupayakan agar ia selalu bahagia dan nyaman bersama saya, juga memberikan kepercayaan penuh padanya. Namun, kini saya sadar, saya hanya jatuh cinta sendirian.
Saya kira, perhatian dan kebahagian yang ia suguhkan itu hanya untuk saya, nyatanya tidak. Ia sudah lebih dulu menggenggam hati yang lain, jauh sebelum saya bertemu dia. Mungkin salah saya terlalu melibatkan perasaan pada sesuatu yang masih terlihat bias. Salah saya, terlalu mudah menggantungkan bahagia dan harapan pada ia.
Ini hanya sebagian upaya, agar bukan melulu kamu yang saya rindu. Tapi saya tidak menyangka, akan sepatah hati ini oleh ia, yang saya kira yang terbaik setelah kamu.
Jika sebelumnya, merindukan mu terasa berat, kali ini, yang berat adalah melepaskan ia yang telah membuat saya diinginkan lalu kemudian menghempas saya seolah saya bukan apa-apa di hadapan semesta.
Kamis, 14 Desember 2017
Pagi dan kopi
Pagi ini biasa saja. Hanya kebetulan ada kamu di ujung kasur dengan kopi hitam sedikit gula dan setumpuk pekerjaan mu.
Pagi ini biasa saja. Hanya kebetulan kamu tak henti-hentinya tersenyum di sebrang sana, dan aku hanya bisa menunduk sambil mengaduk-ngaduk teh di depan ku.
Pagi ini juga biasa saja, sebelum ada yang mengetuk pintu apartemen mu dengan tak sabar. Kemudian setelah itu, kamu mendorong ku bersembunyi di lemari pakaian mu, membuang tas dan baju-baju ku ke tempat sampah di sudut kamar mu.
Kamu membukanya perlahan, ia menyambutnya dengan berkali kali kecupan. Menanyakan mengapa ponsel mu tidak aktif sejak pulang kantor, dan kamu akan menjelaskan betapa pekerjaan menyita banyak sekali waktu dan pikiran. Ia mengerti, dan pamit untuk pergi entah kemana,sambil terus mendekap dan mengucap kata sayang.
Pintu kembali di kunci, perlahan kamu mengetuk lemari coklat yang sedari tadi menjadi tempat ku menahan gejolak dalam dada. Setelah itu kamu meminta maaf, sekali lagi. Lagi. Dan lagi.
Aku ingin mengutuk diri berkali kali, atas jatuhnya hati ini, pada mu yang telah terikat pada janji suci. Tapi sayangnya itu tak akan mengubah apa pun dalam dada mu.
Kemana lagi aku harus bersembunyi? Di bawah kasur yang telah menjadi tempat mu mencumbu ku hingga pagi? Di kamar mandi yang membuat kulit kita basah bersama sama? Atau di balik meja kerja mu yang mempertemukan bibir kita pada saat itu?
Aku lelah, sayang. Menjadi telinga untuk segala keluh kesah mu, menjadi mata untuk duka mu, menjadi kesayangan, tapi bukan kebanggan mu.
Bisa kah kita berhenti saja sampai disini? Berhenti pada tahap aku yang tak mau diacak-acak lagi hidupnya oleh kamu? Berhenti memberi harapan di antara "jika ia begitu penting, mengapa aku rela membagi waktu,uang,cinta,setiap sisi dan sisa ku pada mu?"
Kepada kamu, berhenti lah bermain. Hari sudah pagi, silakan pergi. Pada rumah mu, yang ku tahu, jelas, bukan aku.
Kamis, 17 Agustus 2017
Sudah. Cukup.
Aku masih saja mengaduk-ngaduk es kelapa di hadapan ku, mengira di bawah sana masih ada residu gula dan susu. Padahal yang jelas-jelas tersisa, hanya kamu yang ada di kepala. Dada ku tidak berdegup sama sekali, saat aku bertemu kamu lagi setelah bertaun-taun lalu kamu memilih minggat dari hidup ku. Hanya ada sesak disana, menanyakan hal basa-basi saja aku tak kuasa.
Kamu terlalu menakjubkan. Singgah yang ku syukuri berkali kali. Dan patah yang ku simpan berlama lama.
Hari ini kau buat kupu kupu di perut ku terbang, berputar-putar bahkan. Tapi bisa saja esoknya kamu pergi ke konser raisa dengan perempuan lain. Dengan mu bahagia begitu sering menghampiri, tapi bisa saja setelah ini aku akan menangis meraung-raung hingga aku lelah sendiri dengan sikap mu. Begitu terus,sampai akhirnya kamu memutuskan untuk pergi, untuk membuat ku berhenti bersedih, kata mu.
Namun semuanya terasa tidak pernah baik-baik saja. Bagaimana aku bisa mengahadapi segala "tuntutan" prestasi dari sekolah? Bagaimana mungkin aku bisa menghadapi perceraian orang tua? Dengan siapa lagi aku harus membagi segala luka dan duka? Tanpa mu, aku kosong.
Berbahagia itu pilihan ku. Tanpa mu, baiknya aku tak perlu memilihnya. Namun hidup harus tetap berjalan, dengan siapa pun kamu bahagia. Banyak singgah yang ku lakukan, dan tentu saja, semuanya selalu ku sanggah.
Hari ini aku memutuskan untuk bertemu kamu lagi, bukan karena rindu ku telalu jalang. Bukan juga karena tawa mu yang menggemaskan. Aku merasa sudah cukup. Cukup membuat dada ku sesak tiba tiba, karena unggahan di sosial media mu. Cukup membuat ku sulit tidur, saat tiba tiba kamu kembali ke dalam dunia ku. Cukup membuat ia merasa tak adil saat aku dalam dekapnya, tapi malah kamu yang memenuhi ruang hati.
Satu langkah besar untuk ku, meminta maaf pada mu karena aku tak cukup menjadi alasan untuk tetap tinggal. Mendeklarasikan bahwa aku pernah menangis pukul 2 dini hari, karena rindu telalu bising di dalam kepala.
Kamu adalah sosok paling menyenangkan yang tak pernah kutemui dalam diri orang lain. Saat kamu datang ke dalam hidup ku lagi, jelas, itu bukan lagi urusan ku.
Dengan habisnya es kelapa di hadapan ku, ku pastikan juga segala sesal, kecewa, rindu, benci dan rasa "hanya kamu yang ku mau"- ku, gugur saat ini juga. Dada ku terlalu lapang jika diisi oleh kamu seorang. Bukan hanya karena kamu bahagia ku, lantas membuat ku tak mau tau siapa bahagia mu. Cukup,kamu bukan lagi semesta ku.